Sabtu, 04 Agustus 2012

TOKOH MA'ANYAN ( 2 ) Pdt. MARDONIUS BLANTAN


PDT. MARDONIUS BLANTAN
( Pendeta Ma’anyan Pertama )
by
Hadi Saputra Miter

Mardonius Blantan lahir di Tamiang Layang pada tanggal 13 Mei 1904, beliau sendiri adalah anak ke dua (2) dari tujuh (7) orang bersaudara, orang tua beliau bernama Albert Blantan adalah seorang guru lulusan Seminari Depok Betawi dan menjadi Demang Kepala adat sekaligus Kepala Daerah Dusun Timur, Tamiang Layang dan ibu beliau bernama Katarina
yang mempunyai anak sbb:
1. Elisabet
2. Mardonius
3. Hermine
4. Emilia
5. Emanda
6. Esra
7. Jeremia

Albert Blantan ayah dari Mardonius Blantan seorang guru di Bagok Foto koleksi Basel mission tahun 1920

Beliau menimba pendidikan di Seminari Banjarmasin, kemudian menjadi guru dan mengajar di Standar School Tamiang Layang dari tahun 1924 sampai dengan 1932.
Pada tahun 1932 guru-guru lulusan Seminari Banjarmasin kembali di panggil oleh pihak Zending dari Banjarmasin, termasuk Mardonius yang akrap di panggil Donis. Beliu berangkat dari Tamiang Layang menuju ke Banjarmasin dan di masukan ke sekolah Teologi Banjarmasin yang  dipimpin oleh Missionaris Epple, untuk menjadi pendeta dari Gereja Dayak Evangelis (GDE). 
 Seminari Banjarmasin tempat sekolah pendidikan guru tempat Mordonuis Blantan menimba ilmu pada tahun 1920an


Pendidikan di Sekolah Teologi Banjarmasin berlangsung selama 3 tahun. Pada tanggal 5 april tahun 1935 bertepatan dengan perayaan 100 tahun ( Jubelium ) pekabaran Injil ditanah Kalimantan, maka di tahbiskanlah lima orang pendeta pribumi pertama yaitu:
Eduard Dohong
Gerson Akar
Hernald Dingang
Mardonius Blantan


Pentahbisan pendeta GDE pertama di Barimba Kuala Kapuas : Rudolf Kiting, Eduard Dohong, Gersom Akar, Hernald Dingang Patianum, Mardonius Blantan.  dan penginjil Basel Swiss : H. Witschi, S.Weisser, E.Kühnle, G.Weiler, K.Epple




Beliau menikah dengan Wihellie Anggen yang setia mendampinginya dalam tugas dan pelayanan. Kemudian beliau ditugaskan menjadi pendeta di desa Tewah Pupuh yang meliputi daerah:
1. Banua Lima
2. Tabalong
3. Hulu Sungai

Pada tahun 1940 pecah perang dunia ke II keadaan menjadi kalut dan kacau, diserbunya Eropa oleh pasukan NAZI-Hitler  dari Jerman yang lazim disebut dengan blitzkrieg (serbuan kilat) mengguncang dunia, dimana Belanda juga jatuh ke tangan Jerman. Seketika itu juga Blanda yang merupakan pemerintah colonial dari wilayah Indonesia saat itu mengambil tindakan dengan menangkap dan mengintenir (menahan) orang-orang Jerman, termasuk para Missionaris walaupun mereka orang Swiss namun mereka berbahasa Jerman, sebagai bentuk perlawanan mereka terhadap Jerman. Termasuk saat itu penginjil Gerlach di Tamiang layang beserta istri di tangkap dan diangkut, sehingga kosonglah pelayanan di Tamiang layang.
Maka Mardonius Blantan datang dari Tewah Pupuh menuju ke Tamiang Layang, untuk membantu pelayanan yang kosong ditinggalkan akibat penangkapan tersebut. Beratnya tugas yang dihadapi beliau sehingga tugas beliau akhirnya di bantu oleh para “pambarita” penginjil local yang di perbantukan:
  • Daerah Banua Lima   : Johan Migang
  • Daerah Tabalong       : Mursalim
  • Paju Epat                  : Rodolf Bukit dan Andros Susi
  • Tamiang Layang        : Abel Sanggen
  • Paku Karau               : Alfrit Halim
Mardonius Blantan dan istrinya Wihellie Anggen

Pada tahun 1957 beliau kembali dipanggil ke Banjarmasin untuk menjadi Bapak Asrama di Sekolah Teologia dan menjadi pengajar di Akademi Teologia sampai masa emeritus (pensiun). Karena kecintaan beliau terhadap kampung halamannya, beliau saat pensiun tetap memutuskan untuk Kembali lagi ke Tamiang Layang, dan tetap bertugas sebagai pendeta serta mengajar Pelajaran Agama Kristen di SMP dan SMA.

Pada tanggal 14 juli tahun 1980 pendeta pertama dayak Maanyan itu akhirnya menutup mata, beliau merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dan dihormati, baik Mardonius Blantan dan keluarga besar Blantan merupakan primus inter peres bagi kekeristenan di Tamiang Layang.
 peristirahatan terakhir pendeta dayak maanyan pertama



1 komentar:

  1. Di mana beliau dimakamkan? Semoga dapat menziarahinya dalam pekan ini.

    BalasHapus