Rabu, 03 Oktober 2012

CRISTIAN "MANDOLIN" SIMBAR ( Pahlawan Dayak yang tersisih )


CRISTIAN "MANDOLIN"SIMBAR
By
Hadi Saputra Miter



Kalimantan Tengah lahir dari pergulatan politik dan senjata
Pembentukan provinsi Dayak (Kalimantan Tengah) sebagian besar dilakukan melalui negosiasi dilakukan secara umum yang dilakukan oleh para intelektual namun juga menggunakan tekhnik bersenjata sebagai pentuk penekanan. Teknik-teknik negosiasi terpenting yang termasuk lobi langsung upaya yang ditujukan untuk Jakarta, yang didukung oleh kekuatan tersembunyi di hutan Kalimantan.  Milisi Dayak  dimaksudkan untuk menekan pihak Jakarta  ke dalam permintaan untuk sebuah provinsi Dayak dan juga untuk menunjukkan loyalitas ke Jakarta dengan membantu melawan melawan pemberontak Muslim (misalkan pemberontak Ibnu Hajar dengan Darul islamnya) gerakan ini digambarkan sebagai milisi untuk politisi di Jakarta sebagai sebuah ekspresi budaya Dayak yang unik, liar tapi setia.
Penggunaan istilah tentara lawung nampaknya juga bias dikatakan sungguh kreatif karena merujuk dalam sejarah masyarakat Ma’anyan, dimana Tentara Lawung adalah suatu Dutchsponsored (pendukung tentara belanda) "Kristen-Dayak" kelompok pada awalnya dibentuk untuk melawan penetrasi gerilyawan Sultan Banjar ke tanah Dusun dan Hulu Sungei  (merujuk pada pasukan Suta Ono). Namun kelompok ini bertransisi menuju sebuah cita-cita kemerdekaan yang otonom bagi masyarakat Dayak kelompok ini muncul aktif di Tamiang Layang dan sekitarnya pada tahun 1953.

Cristian Simbar tokoh GMTPS

Munculnya Cristian Simbar aka Mandolin
Cristian Simbar pria kelahiran desa Madara ini adalah pemimpin yang paling menonjol dari Tentara Lawung. Dia mantan sekretaris kepala distrik (wedana atau camat) di Buntok. Kota kecil di tepi sungai Dayak tanah Dusun terletak sekitar lima puluh kilometer barat laut Tamiang Layang.  Dukungan antusias dari penduduk setempat kepada Tentara Lawung lebih disebabkan kepada prakteknya, bukan gagasan atau idiologi gerakan tersebut, dimana dalam prakteknya yang bergaya seperti Robin Hood. Mereka merampok kapal dagang yang lewat dan membagikan hasilnya kepada masyarakat yang membutuhkan, dan juga untuk mereka. Tentara Lawong  merampok kapal dagang di Karau, Negara, dan terakhir di Kalahien, dekat Buntok
Mereka bertindak dengan menyamar seperti otoritas berwajib, mengenakan seragam Aparat pemerintah. Mereka selama melakukan penggerebekan yang biasanya selalu di ikuti pembagian harta rampasan. Tapi kejadian di Kalahien pada akhir tahun 1953 naas bagi mereka terlalu banyak polisi mengepung mereka, yang kemudian berakhir dengan ditangkapnya sejumlah anak buah Simbar saat merampok Kapal dagang Cina, Gin Wan II. Empat orang yang ditangkap dan ditahan adalah kerabat simbar, dan dia memutuskan untuk menyerang kembali. Awal pagi Minggu, 22, November 1953, Simbar dan ratusan pengikut Dayaknya menyerbu kota Buntok. Mereka membebaskan rekan mereka yang dipenjara, tapi dalam proses pembebasan itu mereka membunuh enam polisi, serta enam anggota keluarga polisi tersebut, termasuk tiga anak.  Kemudian kelempok ini melarikan diri dengan senjata yang di rampas dari gudang senjata polisi.
Munculnya kekuatan bersenjata yang memonopoli kekerasan kemudian banting stir untuk kepentingan politik di daerahnya. Dari pada menjadi penjahat, Simbar dan kelompoknya yang semula  terkooptasi berubah menjadi komoditas politik yang bermanfaat. Pada awalnya, milisi ini menarik perhatian kelompok-kelompok lokal yang dianggap mereka sebagai gerakan agama bukan sebagai kekuatan etnis. Dimana dayak Kristen di Banjarmasin, menilai tentara lawung sebagai sekutu potensial untuk melawan Darul Islam, yang menimbulkan ancaman bagi agama mereka. Laporan tentang serangan oleh Kahar Muzakkar dan gerakan Darul Islam terhadap umat Kristen Toraja di Sulawesi Selatan telah menyebarkan ketakutan di seluruh jemaat gereja di seluruh Indonesia. Dan di Banjarmasin, ada cabang dari Darul Islam yaitu KRJT(Kelompok Rakjat Jang Tertindas) lazim disebut Gerombolan, yang telah membuat teror dan menimbulkan korban beberapa orang Kristen dan Pendeta di Labuhan dan Pegunungan Meratus. Sehingga pada bulan November 1953, Christoffel Mihing, seorang Dayak pegawai negri sipil di Banjarmasin yang merupakan seorang Kristen taat, mengumumkan bahwa ia dan jemaatnya siap mengangkat senjata dan bertarung secara frontal untuk mendukung pemerintah Indonesia dan untuk melindungi diri terhadap konversi paksa ke Islam, oleh kelopok KRJT pimpinan Ibnu Hadjar.
Christoffel Mihing ingin mendekati "Tentara Lawung" yang dipimpin Simbar untuk merancang sebuah program "perjuangan bersama". Namun milisi Dayak "Tentara Lawung" lebih memilih perjuangan politik tanpa mengikut sertakan embel-embel agama, mereka lebih memilih perjuangan politik etnis yang mendukung terciptanya sebuah provinsi keempat, dimana orang Dayak memimpin secara otonom di Kalimantan. Sebuah isu yang sengaja mereka eksploitasi dan karena itu memang salah satu masalah pembangunan negara yang ada pada saat itu. Segera setelah serangan Buntok, pemimpin Dayak Kristen di Banjarmasin memilih untuk mendekati dan meminta perlindungan dari Gubernur Murdjani.


Dari Tentara lawung menjadi Gerakan Mandau Telawang Pancasila
Para penyerang Buntok ini telah meluncurkan nama gerakan mereka terungkap dalam surat,  yang mereka sebut Telabang Pancasila Sektor Dajak. Telabang (atau telawang) adalah perisai; Pancasila adalah ideologi nasional Indonesia, sebuah istilah yang jelas disampaikan sebagai bentuk loyalitas ke Jakarta. Para penyerang menjelaskan bahwa mereka telah termotivasi oleh keluhan masyarakat dayak, seperti ketidakpuasan mereka dengan korupsi didalam pemerintahan dan pembatalan skema saluran rawa.
Kelompok ini menambahkan (untuk menarik mata sponsor/dukungan yang potensial di Jakarta) bahwa pihaknya siap "mati untuk" Pancasila. Hari berikutnya, kelompok ini dibaptis ulang dirinya terang-terangan memperlihatkan identitas Dayak, dengan nama Gerekan Mandau Telabang Pantjasila (mandau mengacu pada pedang pendek Dayak). Ini mengumumkan bahwa pemimpinnya adalah Ch. Simbar, alias Mandolin, seorang anggota dari suku Dayak Ma'anyan. Yang paling penting, bahwa kelompok ini ingin menjelaskan oposisinya terhadap kelompok anti-Jakarta dan bukan bagian pemberontak terhadap Indonesia, seperti yang dilakukan oleh KRJT(Kelompok Rakjat Jang Tertindas), DI/TII (Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia) pimpinan Ibnu Hadjar.
Simbar menyatakan kelompok nya bukanlah sampah masyarakat. Dia sendiri mantan seorang pejabat pemerintah lokal, dan sekarang berbicara mewakili daerah Dayak. Pada pertemuan dan mendapat simpatik dari kalangan orang-orang Dayak pada Desember 1953 dengan sebuah delegasi berkekuatan tinggi dari tokoh-tokoh Dayak yang dipimpin oleh Bupati Barito, G. Obus. Simbar mengajukan pembelaan yang sangat ideologis atas tindakannya, dia mengatakan karena didorong oleh rasa ketidakadilan yang diderita oleh orang Dayak, menentang korupsi dan teror para pemberontak Islam. Dan bahwa ia dan anak buahnya akan sukarela menyerahkan diri asalkan mereka direkrut menjadi polisi atau tentara, pada pertemuan ini yang hadir adalah C. Luran, ketua DPRD Barito (DPRDS, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara), dan juga Hausmann Baboe mantan eksekutif Pakat Dayak pada tahun 1939.
Sebuah kesepakatan telah dibuat untuk Simbar, hari berikutnya Simbar menyerah bersama dengan 129 pengikutnya. Semua dibawa ke Banjarmasin dimana dalam pertemuan tingkat tinggi diikuti ada antara pemimpin Dayak dan wakil gubernur, wakil kepolisian, dan kejaksaan (dimediasi oleh Bupati Barnstein Babu, keponakan dari Hausmann Baboe) dimana mereka mengaku mengambil bagian dalam serangan Buntok, untuk dibebaskan dari segala tuduhan. Polisi segan untuk mengambil sikap  dengan kelompok ini, inilah yang membuat kelompok ini menjadi angkuh terhadap hukum, namun Simbar tetap ditahan dengan tuduhan perampokan terhadap kapal Gin Wan II. Namun pada pertengahan April 1954, Simbar melenggang keluar dari penahanan dan pulang kekampung halamannya
Koran “Indonesia Berdjuang” berkomentar  mencium bau tikus (persekongkolan), tapi berani tidak berani menyebutkan nama. Mereka  meyakini Simbar tidak bisa  bebas dengan sendirinya dari berbagai kasus yang seharusnya dapat menjerat nya dan kelompoknya, Para penulis mencurigai bahwa ini semua bagian dari taktik untuk melawan partai-partai Islam. Lepasnya  Simbar dari berbagai tuntutan hukum itu nampaknya telah dilakukan oleh suatu "elemen rahasia" di Banjarmasin, mereka juga mencurigai nahwa ada unsur yang sama pula telah memberinya senjata yang akan dimanfaatkan dalam pemilu
Memang benar bahwa prospek pemilihan umum sudah menaikkan politik ketegangan di seluruh negeri pada tahun 1954, setahun kemudian akhirnya diadakan. Namun gerakan Simbar nampaknya tidak ada kaitan dengan politik pemilu. Simbar adalah pion dalam politik elit yang peduli dengan isu desentralisasi. Pada saat ini, kabinet nasional nampaknya sedang mempertimbangkan pembagian Kalimantan menjadi empat provinsi. Komite aksi Dayak yang bermunculan berdebat untuk provinsi "keempat" dimana akan meliputi Dayak Besar. Yang terbaik dari mereka akan dipilih bergabung dalam Komite untuk Saluran Aspirasi Rakyat untuk Kalimantan Tengah (Panitia Penjalur Hasrat Rakyat Kalimantan Tengah), yang dipimpin oleh Oberlin Brahim dan M. Ismail. Saudara dari Oberlin, yaitu Timmerman Brahim, segera membentuk Partai Persatuan Daya, sedangkan Ismail adalah saudara dari pemimpin Parkindo dan hakim Banjarmasin, yaitu AD Ismail.
Pada bulan Juni 1954, Simbar kembali menjadi headline surat kabar lokal, dimana dia selalu di identikan sebagai pemimpin organisasi bersenjata bernama Mandau, Telawang Dan Pancasila (juga kadang disebut sebagai "Mandau Telabang Kalimantan Dajak"). Dia berbasis di DAS Sungai Barito sekitar Buntok dan Muara Teweh. Dua bulan kemudian, ia dilaporkan telah berjalan 150 kilometer barat ke daerah DAS Sungai Kahayan, di mana ia dianggap memiliki "pengetahuan mistik" (ilmu). Kelompok Kaharingan dan Dayak Kristen mendesak Simbar dan kelompoknya agar bergabung dengan angkatan bersenjata yang resmi. Simbar mengatakan kepada pers bahwa pembentukan provinsi Kalimantan Tengah dengan cara yang "demokratis" adalah masalahnya, dan ia mengkritik upaya lemah yang telah dibuat para elit pendukung gerakannya, Simbar menuding penyebabnya adalah anggota parlemen Dayak Halmoat Koenoem, yang berada di Jakarta (mantan Anggota Dewan, yang juga orang Dayak).

Simbar gagal dalam pergulatan di pesta demokrasi
Kejeniusan Simbar terletak pada kemampuannya untuk bergerak maju mundur di antara kota dan hutan, ia memainkan peran sebagai calon pemimpin Dayak dalam pemilu sekaligus sebagai pemimpin gerilyawan bersenjata. Pada bulan Mei 1955, Simbar muncul dari hutan, ia mengambil tempatnya sebagai salah satu dari tiga kandidat teratas untuk Partai Persatuan Daya. Nampaknya orang Dayak di daerah pemilihan Kalimantan Selatan, tidak bersatu di bawah spanduk etnis dalam pemilu 1955 . dimana nampak kurangnya minat dalam keberpihakan kedalam politik regional. Douglas Miles menggambarkan tingkat dukungan terhadap politisi di pedesaan bahkan dan daerah hulu selama menjelang pemilu sangat rendah. Hal itu terlihat dimana nama dari para Calon utama dai Partai Persatuan Daya itu adalah Timmerman Brahim, Perdinand Dahdan Leiden, dan Cristian Simbar, semua berbasis di Banjarmasin.
Hasil pemilihan untuk provinsi Kalimantan Selatan parlemen sementara (DPRD Peralihan), yang diadakan tahun itu, menegaskan betapa tidak efektif etnis Dayak dalam politik elektoral. Di Kalimantan Selatan secara keseluruhan, 82 persen masuk ke dua partai Islam, Nahdatul Ulama (NU, 49 persen) dan Masyumi (33 persen). PNI (Partai Nasional Indonesia) mendapatkan 6 persen suara. Nampaknya minat dalam isu menciptaan sebuah provinsi keempat kurang gereget di politik elektoral. Apa yang dianggap sebagai kabupaten yang mayoritas didominasi Dayak Barito, Kapuas, dan Kotawaringin, partai-partai yang lebih kecil dikondisikan untuk mendukung provinsi Kalimantan Tengah, namun lesu darah dan tidak cukup untuk mematahkan dominasi dari Partai NU, Masyumi dan PNI.
Partai-partai besar memenangkan total 70 persen, masing-masing 52 persen, dan 60 persen di tiga kabupaten yang notabene kantung-kantung Dayak. Pihak-pihak yang telah secara aktif mendukung pembentukan provinsi Kalimantan Tengah yaitu Partai Persatuan Daya (Partai Persatuan Dayak), PRN, dan Parkindo masing-masing hanya mendapat porsi kecil suara. Meskipun Partai Persatuan Daya, dimana pihak Simbar sendiri bisa dikatakan tidak buruk sebagai partai debutan atau pendatang baru dikancah politik (Simbar yang meraup suara, masing-masing, 3 persen, 14 persen, dan 3 persen dari total suara di masing-masing tiga kabupaten). Namun hal ini nampanya tidak mampu membujuk Simbar untuk tinggal berlama-lama dengan partai politik dan dia memilih kembali taktik lamanya, yaitu perjuangan bersenjata.

Kekecewaan Simbar sebagai patriot yang hanya menjadi anak bawang
Perjuangan Simbar dan kelompoknya tidak sia-sia, Provinsi ke-4 "Kalimantan Tengah" akhirnya terwujud. semua berakhir dengan baik, Tjilik Riwut menjadi Gubernur dan Simbar hanya diberikan sedikit uang sebagai ucapan terima kasih dan dia mencoba peruntungan lewat bisnis. Tidak adanya bakat untuk bisnis, akhirnya membuat ia menderita kebangkrutan, dan merasa diacuhkan. Pada tahun 1961, ia kembali ke hutan, dengan masih membayangkan bahwa ia akan berhasil secara politik dengan pengalamannya berjuang (sementara yang lain nyaman menikmati kontribusi Simbar yang tanpa lelah melobi Jakarta). 
Dia telah melewati masa untuk bisa berharap menjadi gubernur setelah masa Tjilik Riwut itu berakhir, dan ini membuatnya marah. Mungkin dia tidak menyadari bahwa ia telah kehilangan pengaruh imunitas, atau kekebalan hukum yang dulu ia nikmati. Simbar membuat dianggap membuat onar dan tidak ada isu yang membuat masyarakat tertarik dengannya. Simbar ditangkap dan ditahan sebagai seorang pesakitan dipenjara militer di Balikpapan, Kalimantan Timur.  Adik Simbar yaitu Damang Bubu Simbar menyesalkan dimana pemerintah melupakan kohort  (akar) mereka sendiri, dan dimana sang pejuang harus tersisih dari daerahnya. Banyak yang menduga ia mati dieksekusi oleh militer di Balikpapan. Namun semua kabar tersebut dimentahkan setelah bertahun-tahun lamanya dan nampaknya dirahasiakan oleh pihak keluarga, dimana pria bernama Cristian Simbar  dikatakan pihak kedokteran memiliki ciri-ciri identik dengan Simbar selama ini, dan hal tersebut akhirnya dibenarkan oleh pihak keluarganya. Bahwa Simbar diketahui meninggal dunia terkena penyakit maag akut (dyspepsia) berada di Nusa Tenggara Timur. Dan sekarang dipulangkan ke kampung halamannya Madara. 

Sumber:


Gerry van Klinken, Colonizing Borneo: State-building and Ethnicity in Central Kalimantan. (Itaca:Cornell University, 2006).
A.B Hudson, Padju Epat: The Etnografi And Social Structur Of Ma'anjan Dajak Group In Southwestern Borneo (Michigan: University Of Microfilm 1967).
Tjilik Riwut, Kalimantan Membangun (Jakarta 1979).
Laiden, Simbar Pahlawanku (Palangka Raya, 2010).
KAM Usop, Pakat Dayak (Palangka Raya 2012).