Kamis, 23 Agustus 2012

GEORG GERLACH (Pahlawan Injil di tanah Ma'anyan)

Georg Gerlach
by: Hadi Saputra Miter


Tukang Jilid Buku dari Lengenau
Dilahirkan Lahir di Langenau dekat kota Ulm Jerman (Württemberg / Jerman Selatan) pada tanggal 18 November 1895. Dia bekerja sebagai seorang tukang jilid buku di Lengenau, pada tahun 1920 Gerlach terpanggil dan mendaftarkan diri ke Basel Mission sebuah lembaga penginjilan yang berpusat di Swiss. Dimana setiap pemuda dilatih menjadi missionaris selama sekitar tiga Tahun, gerlach tercatat sebagai anggota dari tenaga missionaris dibawah Basel Mission dengan nomor keanggotaan : 2170.

Menikah di tempat asing
Setelah  resmi menjadi Missionaris Gerlach menjalin hubungan percintaan dengan seorang gadis  dari Karlsruh,  gadis cantik yang membuat Gerlach jatuh cinta itu bernama Hedwig Lange tepat pada Natal tahun 1925 Gerlach mengajak Hedwigh bertunangan. Tepat pada tanggal 18 oktober 1927 Gerlach diutus ke Banjarmasin oleh pihak Basel Mission, ternyata tunangannya Hedwig memutuskan untuk mendampingi sang tunangan ketempat pelayanannya di Kalimantan. Setelah tiba di Banjarmasin keduanya memutuskan menikah digereja Banjarmasin pada tanggal 25 April 1928.
Bulan madu keduanya di Banjarmasin tidak lama, sampai pihak Basel Mission yang di Banjarmasin memberi tahu Gerlach bahwa dia ditempatkan disebuah jemaat yang terdiri dari orang-orang dayak Ma’anyan tepatnya di Tamiang Layang. Pada November 1928 Gerlach dan istri menyusuri sungai Barito menuju tanah Ma’anyan. Di Tamiang Layang dan sekitarnya Gerlach berkeliling melakukan pelayanan, memimpin ibadah serta memberikan pendidikan di sekolah-sekolah Misi kepada anak-anak dayak. Sampai pada bulan November 1929 lahirlah putri pertama mereka yang lahir di tanah orang-orang dayak Ma’anyan, putri  mereka diberinama Rosalinde Gerlach.

Kedekatan Gerlach dengan jemaat membuat dia dengan mudah menguasai bahasa dayak Ma’anyan, Gerlach akhirnya memutuskan dengan jemaat dan para penatua dan daikon untuk mendirikan gereja di Tamiang Layang, hal tersebut dikarenakan Tamiang Layang sudah mulai ramai dan jalan jalur darat sudah mulai nyaman ditempuh. Maka Gereja Tamiang Layang pada 29 Oktober 1933 berdiri diiringi suka cita masyarakat dayak Maanyan yang berada di Tamiang Layang. Karena tidak sia-sia usaha dan kerja keras jemaat dan para missionaris yang saling bahu membahu mengupayakan berdirinya gereja tersebut.

Gerlach saat menangkap buaya bersama orang-orang dayak Foto diambil sekitar tahun 1930an

Kembali ke Eropa
Pada Oktober 1934 Georg Gerlach jatuh sangat sakit ternyata beliau terserang demam tinggi yang ternyata penyakit yang paling ditakuti oleh orang-orang Eropa yaitu malaria, Gerlach hanya bisa terbaring lemas ditemapt tidur, jemaat datang berganti gentian menjenguknya. Kerna sakit Gerlah yang makin serius, maka dikirimkan seorang perawat milik klinik kesehatan Basel Mission di Banjarmasin untuk merawat Gerlach, menemani Ny.Hedwig Gerlach.  Pada saat yang bersamaan, putri mereka yang kedua lahir dan diberi nama sama seperti ibunya yaitu Hedwig.

Karena kesehatan Gerlach yang tidak menentu maka Basel Mission memutuskan untuk memulangkan keluarga kecil ini kembali ke Eropa pada tahun 1935. Dari November 1935 sampai Maret 1938, Gerlach bekerja dalam pelayanan rumah misionaris di Hersfeld (Jerman Selatan). Karena kecintaan Gerlach terhadap orang-orang dayak Maanyan maka pada tanggal 14 September  1938 Gerlach dan istrinya dengan seijin Basel Mission kembali ke Tamiang Layang dan kembali melayani jemaat disana. Hanya saja ke dua  anak perempuan mereka tidak diikutsertakan, namun dititipkan di Panti asuhan yang dikelola oleh pihak Basel Mission yang berada di komplek Basel Mission di Basel Swiss, kedatangan Gerlach dan istri disambut suka cita oleh masyarakat dayak Ma’anyan yang berada di Tamiang Layang.

 putri Gerlach yang ditengah memegang palungan, saat merayakan Natal di rumah yatim piatu milik Basel Mission di Swiss foto diambil sekitar akhir tahun 1939an

Berpisah dengan orang yang di Cinta
Berita tentang perang tersebar sampai ke Tamiang Layang hal itu membuat Gerlach waspada, tahun 1940 pecah perang dunia ke II keadaan Eropa menjadi kacau pasukan SS NAZI-Hitler  dari Jerman mengguncang Eropa, dimana Eropa termasuk Negara Belanda juga jatuh ke tangan kekuasaan Fasis Jerman. Belanda yang saat itu penguasa wilayah Indonesia mengambil tindakan dengan menangkap dan mengintenir (menahan) orang-orang Jerman Termasuk Gerlach dan istri di Kandangan. Seakan mendung menghampiri Gerlach dan istrinya. Saat Gerlach penahanannya dipindahkan ke Ngawi Jawa Timur, Ny Gerlach dipisahkan dari suaminya beliau dikirim ke Banyu Biru. Keduanya yang sejak awal tidak pernah berpisah, kini harus berpisah sungguh saat-saat yang berat yang harus dialami  Gerlach. Berkat lobi dan batuan dari pihak kosul Swiss sehingga Ny Gerlach dan istri-istri missionaris lainnya, diserahkan kepihak Jepang (dimana pada saat itu Jerman-Jepang-Itali merupakan sekutu saat perang dunia ke II) sehingga Ny Gerlach dikirimkan ke Jepang pada Juli 1941. Sedangkan nasib Gerlach dan para missionaris lainnya harus pontang-panting dari penjara ke penjara, dimana dari Ngawi Gerlach dipindahkan ke penjara yang dianggap lebih aman yaitu Kuta Cane di Sumatera. Demi keamanan dan untuk menekan pihak Jerman dan sekutunya, maka pihak Belanda sadar kalau tawanan mereka setiap saat bisa saja direbut oleh pihak Jepang untuk keamanan. Maka para penginjil berwarganegara Jerman dikirim ketempat yang paling aman, yaitu wilayah kekuasaan dari sekutu Belanda yaitu Inggris dengan wilayah jajahannya yaitu  India. Maka Gerlach dan para penginjil Jerman lainnya dikirim ke India.


Kisah cinta yang tetap bertahan
Baik Ny Gerlach maupun Gerlach, keduanya tidak bisa kemana-mana hal itu diakibatkan intensitas perang dunia yang makin lama makin meningkat. Ny Gerlach tertahan di Jepang sedangkan Gerlah tertahan di India tepatnya di Bombay (sekarang Mumbay). Adanya kabar bahwa Basel Swiss akan di bom saat perang membuat Gerlach menghawatirkan keadaan kedua putrinya, hanya berdoa ke pada Kristus agar segala putri dan istrinya selamat. Tak ada transportasi yang berani mengantarkan ke Swiss karena perang yang sedang berkobar dipenjuru dunia baik di Eropa maupun di Asia. Setelah perang usai pihak Inggris mengijinkan Georg Gerlach pulang ke Eropa pada November 1946. Begitu Jepang sudah dikuasai pihak Amerika maka Ny.Gerlach pun dipulangkan juga ke Eropa pada Januari 1947.

Suasana mengharu biru Gerlach akhirnya bertemu dengan istri dan anak-anaknya di Basel Swiss, semuanya menangis berpelukan ujian dan cobaan akhirnya berlalu. Ternyata pengasihan Tuhan tidak pernah berlalu dan meninggalkan Gerlach sekeluarga. Gerlach sekeluarga akhirnya menetap di Grötzingen  dan Gerlach menghembuskan nafas terakhir tak lama setelah Natal tepatnya 29 Desember 1966 dan dimakamkan di Grötzingen dekat Karlsruhe Jerman. Sedangkan istrinya Hedwig Lange Gerlach meninggal dunia pada tanggal 05 Juli 1969 dimakamkan didekat makan suaminya.

Semangat Gerlach masih hidup
Gerlah dan istrinya telah memberi sumbangan yang besar terhadap orang-orang Maanyan di Tamiang Layang dan tidaklah heran maka sebenarnya ketua resot pertama di Tamiang Layang bisa dikatakan adalah Gerorge Gerlach. Berdirinya gereja Palanungkai adalah prakarsa beliau dibantu oleh Trostel dan Wailer, kecintaanya terhadap jemaat di Tamiang Layang lah yang membuat Gerlach kembali. Terima kasih banyak G.Gerlach, seluruh jemaat Kristen Dayak Maanyan bangga dan berterima kasih kepada anda dan kami yakin, semangat Gerlach tetap hidup di Gereja Palanungkai Tamiang Layang dan disetiap dentang lonceng gareja yang memanggil jemaat pada hari minggu.


2 komentar:

  1. Sungguh sangan menginspirasi lebih taat lagi kepada Tuhan Yesus👍👍👍

    BalasHapus
  2. Terimakasih atas cerita ini, Pak. Ijun share ya pak, dan apakah boleh saya mengetahui buku bacaan yang harus sata punya untuk mengetahui sejarah mendalam tentang penginjilan di Kalimantan? Terimakasih 🙏

    BalasHapus