Sabtu, 26 Mei 2012

NANSARUNAI : Sebuah Romantisme masa Lalu Dayak Maanyan




NANSARUNAI
Sebuah Romantisme masa lalu Dayak Ma’anyan
By: HADI S.MITER 

According to Padju Epat oral traditional history, all
the Maanjan originated from a settlement, Sarunai, which was
said to have been located near the present town of Amuntai in
the Hulu Sungai district of the Bandjar region, which now lies
in the province of South Kalimantan. (Alferd Bacon Hudson 1967).



Dayak Ma’anyan.
Mikhail Coomans dalam bukunya yang berjudul MANUSIA DAYA, menyebutkan orang Daya(K) bagi anggota masyarakat yang bermukim didaerah pedalaman Kalimantan dan yang tidak beragama Islam, walaupun belakangan misalnya orang Bakumpai yang Islam awalnya mengaku Melayu Banjar, sekarang sudah mengakui ke Dayakan mereka. Di Kalimantan Tengan dan Kalimantan selatan Sungai Barito disebut juga sungai Dusun meskipun nama Barito lebih tua karena telah disebutkan dalam keropak Jawa kuno, Negarakertagama (1365). Selanjutnya istilah Dusun banyak digunakan sebagai rujukan untuk daerah Hulu Barito, terutama daerah yang didiami oleh kelompok-kelompok etnis dayak Maanyan, Lawangan, serta Siang dan Murung dan pada umunnya disebut dengan Dusun Timur, Dusun Hilir, Dusung Tengah dan Dusun Hulu.
Ma’anyan adalah nama salah satu sub suku Dayak yang mendiami Pulau Kalimantan, yang sekarang tinggal dan bermukim di daerah antara sungai Barito dan Pegunungan Meratus, meliputi sebagian wilayah Utara Propinsi kalimantan Selatan dan daerah Timur Propinsi Kalimantan Tengah, pada umumnya tersebar didua kabupaten yaitu Barito timur dan Selatan, serta sebagian kecil berada diwilayah Kalimantan Selatan.. Pada umumnya orang Maanyan berciri hampir sama dengan orang-orang di Asia tenggara pada umumnya yaitu bertubuh sedang, berkulit kecoklatan cerah, rambut lurus berwarna kehitaman, dan beralis sedikit tebal. Sebagai suatu kelompok masyarakat, orang Maanyan memiliki beberapa ciri sosial budaya yang unik dan menarik.
Nimer Widen dalam tulisanya berpendapat bahwa, orang Maanyan ini dalam bahasanya sedikit banyak ditemukan kosa-kata tentang laut atau berhubungan dengan laut yang bisa sebagai rujukan bahwa orang Maanyan itu adalah orang maritim. Kemaritiman orang Maanyan dibenarkan oleh peneliti sejarah Maritim asal Denmark Erik Petersen (Erik Petersen 2000) yang membuktikan bahwa kebiasaan orang-orang Maanyan dalam berlayar, mampu mengantarkan mereka menyebrang samudra menuju benua afrika dan sampai di pulau Madagaskar. Menghilangnya Kemaritiman orang Maanyan itu, diakibatkan terdesaknya mereka ke pedalaman yang membuat gaya hidup maritim mereka berakhir dalam cerita-cerita pengantar tidur.






Ilustrasi gambar yang dibuat oleh Erik Piterson seorang pakar Maritim asal Denmark, kapal yang digunakan oleh orang-orang dayak Ma’anyan untuk menyebrang samudra menuju Madagaskar Afrika. (diambil dari buku: JUKUNG Dari Dataran Rendah Barito 2001 hal.29 )

Tokoh-tokoh orang Ma'anyan bergelar datu (sama dengan datuk dalam bahasa Melayu, yang artinya:bapak dari kakek), patis (bahasa Melayu patih), dan miharaja (sama dengan: maharaja) yang nampaknya itu terpengaruh dari kebudayaan yang berinteraksi dengan mereka. Mereka menyimpan benda-benda pusaka yang berusia ratusan tahun, berupa piring keramik ukuran besar yang bergambar, guci keramik dengan relief naga itu juga menunjukan bahwa mereka juga sudah melakuan interaksi dengan budaya Cina. tabak (nampan berbentuk bunga) dari kuningan, gong dan gelang dari gangsa, tombak dan keris, dan pakaian kebesaran mirip pakaian Jawa. Sedangkan dalam ritus kematian, mereka memiliki kesamaan dengan adat Bali, yaitu melakukan upacara pembakaran tulang-tulang orang mati untuk mengantarkan roh mereka ke tempat paling akhir, yang dalam bahasa maanyan disebut: Ijambe. (Ijambe berasal dari awalan I berkonotasi 'sibuk' dan kata kerja jambe yang berarti 'menangani').
Mereka juga mempunyai kebiasaan yaitu taliwakas atau menuturkan “sejarah masa lalu dan adat-istiadat” mereka pada setiap upacara adat penting. Istiadat menceritakan kembali sejarah dan adat ini disebut orang Maanyan ngalakar, atau ngentang atau nutup entang, atau nutup tarung. Selain taliwakas, mereka juga mempunyai banyak cerita-cerita yang disebut juga Tanuhuyen, berupa legenda, balada, dan juga nyanyian-nyanyian tentang kebesaran dan kemakmuran mereka di masa lalu, tentang tokoh-tokoh sejarah, disebuah 'kerajaan' (kecil) yang menurut mereka bernama Nansarunai.



Nansarunai Sebuah Negri Yang Tak Tercatat
         Apakah Nansarunai sebuah kerajaan?memang banyak menyebutkannya sebagai sebuah kerajan. Walaupun memang tidak ada bukti apapun yang bisa digunakan untuk merujuk kearah itu selain cerita lisan saja. Sehingga saya meminjam istilah dari Marko Mahin yang menyebut bahwa Nansarunai adalah Negara etnik (Etnik State). Nama Sarunai berasal dari kata “serunai” yakni alat musik sejenis seruling yang mempunyai tujuh buah lubang. Alat musik ini sering dimainkan orang-orang Suku Dayak Maanyan untuk mengiringi tari-tarian dan nyanyi-nyanyian. Konon, masyarakat Nan Sarunai sangat gemar menari dan menyanyi. Sebenarnya istilah lengkapnya adalah Nan Sarunai. Kata “nan” diduga berasal dari bahasa Melayu yang kemudian dalam lidah orang Maanyan dilafalkan hanya dengan ucapan Sarunai saja. Dengan demikian, nama “Nan Sarunai” berarti sebuah tempat masyarakatnya gemar bermain musik (Sutopo Ukip, 1998).
         Walaupun pada awalnya didalam tradisi atau sejarah banjar, tidak pernah disinggung tentang Nansarunai namun nampaknya sejak banyaknya penelitian yang berkaitan dengan sejarah dan juga nampaknya tradisi oral masyarakat dayak Maanyan mulai diakui, maka tidak heran dalam buku yang diterbitkan oleh Tim penelitian sejarah banjar pada tahun 2003 menyebutkan bahwa, Nan Sarunai ditempatkan ke dalam fase negara suku hal tersebut dirasa tepat karena Nansarunai merupakan pemerintahan purba yang dikelola oleh orang-orang dengan karakter yang masih berlingkup kesukuan, yakni Suku Dayak Maanyan. Selain itu, keberadaan Nan Sarunai juga dapat dikatakan sebagai pondasi awal dalam menyokong berdirinya beberapa pemerintahan pada masa berikutnya, yaitu seperti Kerajaan Negara Dipa, Kerajaan Daha, hingga Kesultanan Banjar. Dengan kata lain, Nan Sarunai adalah yang mengawali mata rantai perjalanan sejarah Banjar di Kalimantan Selatan. Oleh karena itu sangatlah sulit mencari leteratur yang berhubungan dengan Nansarunai selain dari nyanyian-nyanyian magis para balian.


Dibawah Bayang-bayang”Usak Jawa”
Berikut ini adalah syair Nansarunai usak jawa yang ditulis oleh Sutopo Ukip dan Esun Bae (Ukip 1998) walaupun banyak versi sebenarnya tentang syair ini. Setiap sub suku Dayak Maanyan seperti Paju epat, kampung Sapuluh maupun Banua Lima punya versinya sendiri-sendiri. Bahkan tiap tetua-tetua terkadang juga memiliki perbedaan masing-masing

NANSARUNAI USAK JAWA
syair pertama

Nansarunai takam rome usak Jawa
Ngamang talam takam lulun unggah Gurun

Nansarunai takam galis kuta apui
Ngamang talam takam jarah sia tutung

Nansarunai takam wadik jari danau
Ngamang talam takam wandui janang luyu

Hang manguntur takam galis em'me angang
Kuda langun takam jarah mangalongkong

Suni sowong kala tumpuk tanan olun
Wayo wotak alang gumi Punei Lului
syair kedua

Batang Nyi'ai ka'i hawi tamurayo
Telang nyilu ne'o jaku taleng uan

Anak nanyo ka'i hawi nganyak kaleh
Bunsu lungai ne'o jaku ngisor runsa

Ngunu ngugah pasong teka watang tenga
Hamen bingkang kilit iwo pakun monok

Muru pitip Nansarunai ngunu hulet mengalungkung
Ngamang talam takam tantau nuruk nungkai

Hang manguntur takam kala harek jatuh
Kudalangun takam alang rakeh riwo

Hang manguntur takam kala buka payung
Kudalangun takam alang bangun tang'ngui

Jam'mu ahung takam kawan rum'ung rama
Luwai hewo padu ipah bawai wahai

         Karena adanya Nansarunai terdapat pada periode sebelum munculnya kerajaan Nagara Dipa maka, saya meyakini tradisi yang menyebutkan ”Nansarunai usak Jawa” yang banyak diasumsikan sebagai serangan pihak Jawa (besar kemungkinan dari pecahan kerajaan Majapahit) yang membuat Nansarunai pecah dan tercerai berai. Hal tersebut memang tercermin dari syair diatas yang menggambarkan sebuah kerusakan dan kehancuran yang datang dari luar. Namun saya melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, dimana Nansarunai Usak jawa adalah sebuah kekalahan budaya. Bukan dalam bentuk peperangan, karena saya berasumsi kalaupun ada peperangan harusnya dicatat oleh pihak Penyerang dalam hal ini adalah Jawa, karena pihak Jawa yang terpengaruh kebudayaan besar Majapahit sudah mapan dari segi budaya dan mengenal baca tulis pastilah mencatat tentang kejadian penting seperti itu. Kekalahan budaya masyarakat Ma’anyan di Nansarunai terjadi karena mereka dalam hal ini masyarakat Nansarunai kaget dengan hadirnya kebudayaan yang jauh lebih besar dan mapan untuk ukuran saat itu. Sehingga mereka berangsur-angsur meninggalkan Nansarunai. Namun intinya Usak jawa adalah sebuah kesedihan, ratapan dan rasa tersingkir oleh sebuah kekuatan dari luar, yang menyebabkan orang Maanyan merasa sangat kehilangan.



Laki-laki dengan sumpit yang terdapat direlif candi Borobudur yang menurut para Antropolog adalah orang-orang Dayak yang berhubungan dengan orang-orang Jawa


Jejak-jejak meninggalkan Nansarunai bisa terlacak pada suku Merina di Madagaskar Afrika, Dayak Tumang di Samihim dan di Warukin Tabalong dan bahkan didaerah seperti di Pasar Arba Kalua (banua lawas). Selanjutnya tentu saja dimana tempat bekas berdirinya Nansarunai, maka orang-orang dari Jawa mendirikan Kerajaan dan itu tercatat dalam sejarah disebut dengan Negara Dipa yang bercorak Hindu yang dalam Hikayat Banjar disebutkan dipimpin oleh Empu Jatmika ayah dari Lembu Mangkurat dan Negara Dipa datang suatu tempat yang bernama Keling yaitu suatu daerah sekitar Kediri utara, Nagara Dipa kemudian berlanjut ke Nagara Daha dan Kesultanan Banjar. Lahirnya kesultanan Banjar yang awalnya Negara Daha yang bercorak hindu menjadi Islam, dikarenakan konsekwensi dari perjanjian  Sultan Suriyansah pada kerajaan Demak, dalam upayanya merebut takhta kerajaan dari pamannya. Perpindahan keyakinan tersebut juga berimbas pada disingkirkannya keyakinan-keyakinan lama baik itu Hindu maupun keyakinan lokal seperti Kaharingan, yang dianggap tidak sejalan dengan nilai-nilai normatif Islam yang berlaku dalam cerita lisan Banjar ada ditemukan, seorang ulama kharismatik yang bernama Khatib Dayyan dikirimkan kerajaan Demak untuk mengajarkan Islam secara intensive. Dan proses Islamisasi lebih diperkuat pada abad ke-18, ketika Syekh Arsyad al-Banjarai, yang menuntut ilmu agama di Mekkah, dan pulang serta menjadi penasehat dari Sultan Tamjidillah. Sehingga tamatlah riwayat jejak-jejak Nansarunai.
 Akibat pecahnya Nansarunai juga berimbas kepada, Suku Dayak Maanyan terbagi dan tersebar menjadi beberapa sub suku kecil, yaitu: (1) Maanyan Siung yang bermukim di Telang, Paju Epat, dipimpin oleh Uria Napulangit, (2) ma’anyan Kampung sapuluh (paju sapuluh) dipimpin oleh Uria Biring (3) Uria Magaί yang memimpin Banua Lima. (Hudson, dalam Padju Epat 1967). Namun sekarang suku Dayak Ma’anyan sebagian besar bermukim didaerah Barito Timur dan Barito Selatan, Kalimantan Tengah.
         Siapa pemimpin Nansarunai, sekali lagi inilah sulitnya melacak tokoh tersebut karena tidak ada sejarah tertulis yang valid dan bisa digunakan sebagai rujukan. Hanya saya meminjam tulisan dari Sutopo Ukip (Sutopo Ukip 1998)yang menyebutkan Raden Japutra layar pada kurun 1309-1329 M, penerus Raden Japutra Layar sebagai pemimpin Nan Sarunai adalah Raden Neno (1329-1349) dan kemudian Raden Anyan (1349-1355). Raden Anyan, bergelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas, adalah pemimpin terakhir Nan Sarunai. Dan istilah Raden nampaknya sangat kental berbau budaya Jawa, jadi saya lebih beranggapan istilah Raden lebih kepada serapan dari budaya Jawa




Seorang balian dayak Maanyan saat membacakan doa-doa dalam mengantarkan arwah menuju Datu tunyung Gahamari  dimana Nansarunai telah menjelma ke alam swarga loka ( diambil dari Judit M.Hudson “SOME OBSERVATIONS ON DANCE IN KALIMANTAN” Cornnel University 1967 hal. 141

            Saya menyebutkan bahwa Nansarunai adalah romantisme masa lalu masyarakat Dayak Maanyan, dimana mereka mencoba menggambarkan Nansarunai adalah sebuah Kerajaan besar dipimpin oleh raja-raja, sebagai jawaban terhadap kebudayaan besar yang menyingkirkan keberadaan mereka. Dan Nansarunai juga merupakan symbol kejayaan yang gilang gemilang, yang terus menerus dinyanyikan dan dihayati dalam lantunan nyanyian para Balian, saat menghatrakan para arwah untuk kembali menuju kepada sang Alatalla Ngaburiat Hyang Piumung Jaya Pikuluwi yang menciptakan nenek moyang orang Maanyan pada mitos penciptaan yang disebut mula jari atau juga imula alah. Dalam Nyanyian Wadian Pangunraun  yang disebut dengan ”Nyarunai” dimana Nansarunai hadir dan menjelma dalam alam datu tunjung gahamari (swarga loka Dayak Ma’anyan) dan dimana setiap jiwa-jiwa orang Ma’anyan akan bersatu kembali di Nansarunai.






5 komentar:

  1. Salam Ndan... Blog na dah ane tambahain di link sahabat punya owe.. Nah, ini dia nih tulisan yang kudu dibaca anak2 di STT. Mantap Ndan, nice posting... Semangatt...

    BalasHapus
  2. makasih kunjungannya Mr.Tio terhormat ne sudah di kunjungi

    BalasHapus
  3. Naan antuhan galar ulun sadi sa masih naantu hampe itati hang wuang puris amah hanye yeru hi Datu tihang layar.. yeru kakira ku tau komandan maritim takam ulun maanyan sadi hampe madagaskar yaru.

    BalasHapus
  4. Nice.. :)
    Catatan sejarah yang hilang. Semoga bisa ditindaklanjuti lebih dalam untuk bisa memahami perjalanan terbentuknya Nusantara.
    Satu yang menjadi saya bertanya-tanya: kenapa data kurun waktu dengan bukti yang ditemukan tidak sinkron. Dari pertanyaan itu saya berasumsi, antara Nan Sarunai dengan "Nyarunai" (Dari tulisanmu: ...Dalam Nyanyian Wadian Pangunraun yang disebut dengan ”Nyarunai” dimana Nansarunai hadir dan menjelma dalam alam datu tunjung gahamari (swarga loka Dayak Ma’anyan) dan dimana setiap jiwa-jiwa orang Ma’anyan akan bersatu kembali di Nansarunai." itu berbeda. Saya pernah mendengar tentang Nan Marunai. Apakah itu yang dimaksud dengan Nyarunai? Nan Marunai.. Ia pertama kali.. jauh lebih tua.. sangat tua.

    Jabat Erat,
    Sheera

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih kunjungannya saudari Devia
      saya pikir itu masalah ejaan,Marunai dan Sarunai. Al Hudson dari Cornell University berasumsi Nansarunai adalah sebuah komunitas masyarakat etnic (bahasa kasarnya primitive) yang rentan menjadi serangan komunitas dengan kebudayaan yang lebih mapan.
      dan untuk Nansarunai ini memang hampir sulit dibedakan antara fiksi dan non fiksi nya ditengah orang Ma'anyan sekarang.

      salam hangat...

      Hapus