Sabtu, 23 Juni 2012

CERITA, MEREKA YANG DISEBUT "ULUN DUSUN KALAHIEN"


CERITA, MEREKA YANG DISEBUT " ULUN DUSUN KALAHIEN"
BY: ASRI ROMI
ORANG-ORANG DUSUN KALAHIEN TAHUN 1927 FOTO KOLEKSI BASEL MISSION

JEMBATAN KALAHIEN TAHUN 2011


Kampung itu bernama Kalahien
Desa Kalahien merupakan sebuah desa yang berada di pinggiran sungai Barito, tepatnya di Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Propinsi Kalimantan Tengah. Masyarakat Dayak Dusun Kalahien masih sangat menjunjung tinggi kebudayaan. Ada banyak upacara adat yang sering diadakan oleh masyarakat setempat, salah satunya adalah ritual Bokas Ego yang berarti ritual syukuran karena terwujudnya harapan orang-orang yang bernazar pada pangantuhu.
Panguntuhu adalah nama leluhur yang dimiliki oleh seorang pangalima yang bernama Sampel. Kunon ceritanya pada zaman dahulu ada kakak beradik yang bernama Sampel dan Melot, mereka mempunyai kasus pembunuhan di daerah yang bernama Banao karena takut tertangkap maka kedua kakak beradik ini melarikan diri dari Banao (suatu desa yang sekarang berada di Muara Teweh, Kabupaten Barito  Utara). Sampel yang adalah si kakak lari ke daerah Rakutan[1], sedangkan Melot lari dan sembunyi ke daerah Marabahan.
Waktu itu pada era pemerintahan Belanda, dan pihak pemerintah mengetahui adanya kasus Sampel dan Melot, namun pemerintah Belanda tidak mempermasalahkan kasus tersebut. Malah pemerintah Belanda menyuruh adiknya (Melot) menjemput Sampel dari Rakutan untuk menjadi kepala desa, didesa Manengang[2]. Di desa tersebut Sampel diangkat menjadi pembakal Islam. Setelah beberapa waktu mengapdi di desa Manengang Sampel pun meninggal dunia dan dikebumikan di Manengang.

Sampel tokoh yang disegani masyarakat lokal
Untuk menunjukan rasa suka cita dan terimakasih kepada Sampel yang dianggap sebagai pangalima maka orang kampung setempat maupun orang kampung sekitar memberikan tarian penghormatan mengeliling kuburan tokoh tersebut. Tidak diketahui jelas siapa orang pertama yang mengetahui bahwa Sampel mempunyai sahabat dari dunia yang lain yang bernama pangantuhu. Pangantuhu ini lah yang seringkali menolongnya. Oleh karena mengetahui hal tersebut maka orang kampung yang menglami kesulitan karena sakit dan harapan tertentu yang ingin dicapai minta tolong kepada pangantuhu dan bernazar. Apabila apa yang diinginkan terwujud maka mereka yang bernazar pun membayar nazar dan mengarak kepala manusia sebagai ungkapan terimakasih dan juga rasa syukur. Kepala manusia tersebut diarak mengelilingi kuburan Sampel, rumah pangantuhu[3], dan rumah orang yang mengadakan ritual Bokas Ego tersebut selama 7 kali putaran, tidak diketahui secara pasti siapa orang yang pertama melakukan 7 kali putaran tertsebut dan apa alasannya sehingga harus 7 kali.

 Rumah atau "lewu pangantuhu"Foto koleksi : dayak-barsel.blogspot

Pada zaman dulu  yang diarak oleh orang yang bernazar memang kapala manusia yang menurut informasi adalah kepala orang yang dibunuh (kemungkinan besar hasil pengayauan), sehingga diganti dengan kepala orang hutan (Simia satyrus). Kepala manusia lalu diletakkan di dalam rumah pangantuhu dan sekarang sudah terlihat seperti batu karena sudah sangat tua dan menurut masyarakat desa, kepala tersebut setiap tahunnya beranak batu-batu kecil yang ada di sekeliling kepala tersebut. Setiap tahun batu-batu kecil tersebut selalu bertambah.
Diganti dengan kepala orang hutan karena konon ceritanya bahwa manusia berasal dari orang hutan. Kepala orang hutan yang diaambil untuk mengganti kepala manusia tersebut tidak di ambil secara sembarangan, namun melewati tahap nareap[4] terlebih dahulu. Itulah sebabnya sekarang ketika orang mengadakan upacara Bokas Ego maka yang di arak adalah kepala orang hutan. Realitanya yang bernazar di rumah pangantuhu sekarang tidak hanya masyarakat setempat, melainkan orang dari tempat yang jauh, tidak hanya umat Kaharingan tetapi juga mereka yang beragama Kristen dan Islam. Kalau membayar nazar dengan makanan jumlah dari masing-masing makanan harus  8X  karena itu sudah perehitungan khusus bagi pangantuhu. Apabila memberi kepada pangantuhu bisa saja member babi, tetapi untuk penghormatan kepada panglima Sampel itu tidak boleh menggunakan babi karena panglima pernah menjadi pembakal Islam. banyak yang datang mengaku bahwa pernah bernazar ke pangantuhu dan berhasil.  


[1] Rakutan adalah hutan yang berada di dekat desa Kalahien
[2] Manengang adalah nama sebuah desa yang dulunya berada di seberang desa Kalahien
[3] Rumah pangantuhu itu dibuat oleh orang yang bernazar
[4] Nareap itu berari ada sejenis pengucapan mantra yang diucapkan melalui ritual yang dilaksanakan pada saat pemotongan kepala orang hutan tersebut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar