IJAME :
9 Hari Menuju Datu Tunyung
by: Hadi Saputa Miter
Ijambe itself is a public health
officer’s nightmare. Every day pigs are butchered on one side of the balai;
food is prepared in the small kitchen attached to the balai by the old women.
This food is dedicated to the spirits of the dead by the shamans at night, but
fed to the elders after midnight, once it has been festering in the tropical
heat all day.
(
Judit M. Hudson, 1963 )
Apa itu Ijame?
Ijame adalah sebuah proses penghormatan dayak Maanyan Paju
epat, untuk mengantarkan dan sebuah penghormatan kepada roh nenek moyang agar
ditempatkan di tempat yang layak. Orang Maanyan khususnya sub kelompok paju
epat sangat-sangat meyakini bahwa orang mati belum mencapai kesempurnaan kalau
belum melaksanakan ijame. Kehidupan adalah roda yang berputar bahkan
kematianpun harus diletakan disebuah rasa penghormatan yang tinggi, memerlukan
waktu 9 (sembilan) hari agar arah benar-benar bisa pulang ke swarga loka yang disebut datu tunyung.
Papuyan
Situs papuyan adalah kunci utama, dari prosessi ijame ini.
Karena situs inilah tempat dibakarnya tulang-belulang orang mati tersebut tanpa
papuyan berarti tidak ada ijame. Ketiadaan situs papuyan nampaknya yang
mempengaruhi dimana tidak ditemukannya Ijame pada sub suku lain seperti Kampung
sapuluh dan Banua Lima.
Ijame dalam catatan sejarah
Ijame sempat disinggung sedikit oleh Missionaris Danninger
saat ia bertugas di Murtuwu 1853, dia menggambarkan sebagai berikut:
Festival orang Haiden (Kafir) .
Baru-baru ini saya mengunjungi sebuah festival di Telang .
saat itu banyak orang berkumpul di Balei
( bangunan besar ) .saya melihat Peti
mati terbuat dari kayu gelondongan, yang dikelilingi oleh bertingkat oleh papan
dan ditumpuk pada satu sama lain membentuk piramida. Lembaran papan dicat
dengan gambar naga dan kekejian lainnya . Piramida dihiasi indah dengan cara
lokal , tetapi juga memiliki setiap bagian penting sendiri. Untuk setiap jiwa
menggantung daun kelapa yang dikepang. Sekitar piramida terdapat kelapa dan
berbagai varietas padi serta tanaman lainnya , semuanya ditujukan untuk roh dan arwah, kemudian hari peti mati
dibakar pada onggokan kayu yang besar . Jika Anda melihat kerumunan dalam festival kematian itu, seolah-olah
mereka serius, ingin memberi mereka yang mati pemurnian dari dosa seperti yang
mereka klaim. Tidak hanya sampai disini pengorbanan berdarah sebelumnya
dilakukan dengan seekor kerbau untuk
ditukar sebagai pendamaian bagi dosa orang
mati. Apakah sebenarnya yang mereka
tawarkan, mengikat binatang serta melakukan kekejaman terhadap hewan
yang terluka apakah itu lucu, dan semua sorakan dari sukacita atas penyiksaan,
jika kerbau di tusukan tombak yang tak terhitung jumlahnya tarian kematian
diatas bangkai binatang . Tapi ada juga pesta pora bersama, karena binatang
tidak terbakar tetapi dimasak dan dimakan, tetapi untuk jiwa-jiwa orang mati
kerbau dengan kedua tiba di luar. Namun peristiwa Telang ini bisa saya gunakan
untuk mengajarkan tugas saya. Ketika kepala suku datang bersama rombongan
orang-orang didalam rumah besar, dan saya mengatakankan tentang satu-satunya korban yang valid untuk menebus
dosa seluruh dunia yaitu Kristus, yang bertentangan dengan kesia-siaan yang
mereka lakukan untuk mereka yang mati
tersebut.
Gambaran
tersebut memang isinya sangat keras mengecam ijame, namun itu bisa dimaklumi
karena itu merupakan bahasa seorang Missionaris Pietis, yang memandang budaya
asli sebagai sebuah penghalang Kekristenan.
Tulisan yang cukup netral dari pandangan orang Eropa terhadap
Ijame adalah oleh F.Trefferes seorang tentara Belanda berpangkat Mayor, dia
menulisnya dalam catatan perjalanannya pada
Maret 1927 di Telang, dia diajak oleh putra Suta Ono yaitu Suta Negara
untuk melihat kegiatan yang ia sebut dengan “I Djame” kegiatan tersebut
berlangsung dari tanggal 4-12 maret 1927 di desa Balawa.
Sastrawan
Gus tf Sakai menggambarkan Ijame dalam novelnya yang berjudul Tiga cinta, ibu :
Siong.
Suara
nalente dan panewang berdengung di siang bolong. Menindih deraian tawa bocah,
menyapu debu yang berhamburan di jalan tanah-jalan
utama kampung-yang tersepak sekian kaki, lalu lepas ke pohon-pohon karet. Angin
bertiup lembut, tapi tak berhasil mengusir gerah. Seriuh inikah
nung,
nung nig gongngng....
nunb nung, ning, gongengng….
nunb nung, ning, gongengng….
Sampai juga aku di desa ini, tapi ketika upacara
ijambe telah berlangsung lima hari. Hari ini adalah hari yang keenam dari tujuh
hari
ijambe. Dan, sejauh itu, waktuku terpaksa kuserahkan lebih banyak ke
warung-wamng tiba di sekitar bale. -tempat di mana upacara dilakukan. Riu
ternyata memang berada di sini. Tapi, kekhusyukan upacara di mana gadis itu
ikut serta di dalamnya, membuat kami seperti dua orang yang tak pernah kenal.
Beberapa kali kami berbaku tatap, namun seperti ada sesuatu yang kalcu
mendindingi. Kekakuan yang seperti bulan berasal dari kekhusyukan upacara.
Mengganjal, dan aneh.
"Sudah
berapa kali menyaksikan ijambe?" tanya Victor, lelaki Batak yang
menyuguhkan kebersamaann sejak tadi pagi. Hadir dan berkenalan di sini, karni cepat
akrab dalam status, turis lokal. Kuseruput kopi panas dari piring ceper.
Kuleletkan lidah. "Baru kali ini; kataku. Di luar warung anak-anak berkeringat.
Kotor, dan ada yang bertelanjang dada. "kau?" "Sudah beberapa
Victor menggunakan jemari menyisir rambutnya yang pendek.
Gaya
bicaranya amat terbuka dengan dialek Batak yang telah pupus. Kocak dan segar,
membuat tembok yang membatasi usia kami jadi tak berarti. la beberapa tahun
lebih tua, dan masih bujangan. Bolak-balik dari warung tiban ke bale, Victor
bonyak bercerita rentang ijambe. Di sepanjang upacara, ia memberitahu apa yang
tak kutahu. Kegelisahanku akan sikap Riu yang aneh mengendap sejenak, tenggelam
dalam omongan Victor. "Sebentar lagi akan dilakukan nampotei karebau, acara pembunuhan kerbau yang barangkali paling
sadis daripada segala pembunuhan yang pernah kau saksikan," terang Victor
ketika para mengurak silanya dari lantai bale. Balian-balian itu berdiri.
Tetabuhan gong meninggi.
nung,
nung nig gongngng....
nunb nung, ning, gongengng….
nunb nung, ning, gongengng….
Lantai
bale yang terbuat dari bambu berderit ketika para balian bergerak menuju teras.
Balian paling depan mengacung-acungkan luwuk.
"Mereka percaya bahwa ayunan luwuk bisa menghindarkan mereka dari tarikan
arwah yang sedang mereka doakan," jelas Victor tentang besi yang
bentultnya seperti penggaris itu. "Juga luwuk berfungsi sebagai penunjuk
jalan agar perjalanan para arwah tidak tersesat." Semua orang di bale,
pengikut upacara, yang ridak hanya terbatas pada laki-laki dan perempuan
dewasa; juga kanak-kanak, sekarang berdiri. Mengikuti para balian, mereka juga
turun ke teras yang terbuat dari cecabangan kayu. Nalente dan panewang kembali
dipukul tinggi. Beberapa wanita merapat ke arah balian. Riu kini menating
nampan-nampan kecil yangdi dalamnya terdapat sesajen: seniru beras, daging
babi, ayam, nasi, yang semuanya dihiasi janur.
Balian
balian yang lain sesekali menabur-kan beras, membuat helaian daun sawung yang
mencuat dari ubel-ubel merah yang menutupi kepala mereka terangguk-angguk.
Kerbau itu, sang korban, dijerat lehernya dengan rali rotan dan diikatkan ke bluntang.. Perempuan yang memirnpin para
balian menepiskan kakaman. Yang menjuntai,
lalu mulai membaca
ina haiemau kalaau naun
matei na eneey kalaau nalun
ma datu tunyung
Habis
membaca hiang, pemimpin balian mengayunkan Luwuk di tangannya ke kepala kerbau.
Darah muncrat, dan sang kerbau yang relah dipuasakan beberapa hari itu
berontak. Empat lelaki, yang telah bersiap dengan tombak di tangan di setiap
sudut lapangan, mulai melaksanakan tugasnyai tombak menancap-nancap! Darah
berceceran! Beras terus ditaburkan. Hiang terus dibaca.

Iwuwuh makan bersama di balai
Prosesi Ijame
Perlengkapan
ijame
Membuat
titian dari rumah kegiatan (lewu putut) menuju Balai yang disebut tetei
Mempersiapkan
Tarip atau papan ukir
Tammak:
tempat penyimpanan abu (Mapui) setelah pembakaran tulang.
Baluntang:
tempat mengikat kerbau yang akan dikorbankan
9
hari diuraikan sebagai berikut:
1.Tarawen
Pembuatan
peti mati yang disebut dengan Rarung, kemudian dilakukan ibungkat menggali
tulang atau jasad dari pemakaman, tulang dibersihkan dengan minyak tanah dan
dikumpulkan didalam rarung kemudian digendong menjuju balai.
2.Neet
uwey
Kegiatan
ini utamanya adalah neet= meraut, Uwey=rotan yang digunakan untuk sabung ayam
3.Narajak
Dilakukan
di situs papuian yaitu mnyusun bambu sehingga membentuk pramid (tarajakan)
4.Muarare
Adalah
mengayam bambu, yang disematkan di tarajakan
5.Nahu
Ini
adalah proses mengasapi kayu agar menjadi hitam yang nantinya akan diselipkan
juga ditarajakan
6.Nyurat
Proses
membuat gambar untuk atap papuyan
7.Nansaran
Membuat
teras atau lalaya untuk papuyan
8.Munu
Pada
hari ini gelanggang adu ayam dibongkar dan Kerbau diikat dibalontang
Munu, proses pengorbanan Kerbau
9.Mapui
Proses
terakhir yaitu membakar Tulang,tulang yang dibakar yang sudah membara tersebut
dikumpulkan didalam gong dan ditaruh didepan balai yang akan ditangisi oleh
pihak keluarga dan akhirnya dicuci dengan air kelapa (tamanung) kemudian
diantar ke Tamak.
Kembali
saya mengutip Novel Gus Sakai:
Api
berkobar-kobar. Rarung bergemererak, membara, bolong, menyembulkan
tulang-belulang. Belulang itu hangus, berjatuhan dan mengabu di lantai
papuyan. Perbekalan arwah pun rnendapat giliran, tak berdaya dan luluh dalam
pembakaran. Ketika seluruh kerangka sempurna menjadi abu, papan sisa rarung
yang masih membara dibuang ke ranah. Nalente, gong besar itu, pun melaksanakan fungsinya.
Abu kerangka dimasukkan ke situ, lalu disiram dengan wewangian. Selesailah
sudah. Iring-iringan kembali terbentuk menuju bale Di depan bale, nalente yang
telah dipenuhi abu kembali di-hiangi oleh balian. Terakhir, para balian
memegang abu pembakaran mayat. Konon, ijambe berasal dari kata nyambe, yang artinya memegang. Memegang
abu, itulah. Kupikir upacara telah selesai, tapi temyata belum. Aku kembali
dibawa memasuki jejeran pohon karet. Kali ini ke suatu bangunan yang disebut tambak. Di dalam Tambak itulah segalanya berakhir. Abu pembakaran dimasukan ke dalam
sebentuk rarung yang lebih besar. Rarung yang berusia entah telah berapa
puluh tahun, dan entah telah menelan berapa manusia. Para arwah telah menuju
surga.

Wadian ijame, menunjukan jalan arwah dengan menggunakan luwuk
Tamak, tempat penyimpanan tulang sisa pembakaran
Ijame dan modernitas
Ijame makin lama makin tersudut oleh kemajuan jaman, Ijame
silam adalah sebuah upacara penghargaan yang hidup kepada yang sudah mati.
Kepercayaan lokal orang maanyan yang sudah ditinggalkan oleh para generasi post
modern ini, menyisakan kisah romanisme saja. Ijame terakhir yang saya ikuti
adalah tahun 2010 di Murutuwu saya sempat berbicara dengan seorang wadian yaitu
Langu dari Murtuwu, apakah ini Ijame terakhir ujarku? Ia menjawab dengan
pandangan menerawang entahlah saya harap tidak. Harapan wadian Langu adalah
kecemasan kalau budaya yang ia cintai akan menghilang namun apa mau dikata
kebudayaan bukanlah benda mati, yang stagnan
ia akan terus berubah menyesuaikan dan kebiasaan manusia di jamannya
masing-masing. Sama seperti rumahrumah kayu maanyan yang berubah menjadi beton,
jukung digantikan oleh mobil dan sepeda motor jepang serta Hyang Wadian akan
digantikan lantunan nyanyian lagu top chart terbaru dari Hand phone android
buatan cina.
SUMBER:
Foto-foto
adalah koleksi dari Judit Murddock Hudson dan Alfred Bacon Hudson di Massachusetts
Amerika Serikat.
F.Ukur
Ijambe Upacara Pembakaran Tulang Orang
Dayak Ma’anyan (Berita Antropologi, 1974)
Wasita
Ijamme Di Telangsiong Kabupaten Barito
Timur (Pusat Arkeologi Banjarmasin, 2005)
Budaya
Dayak Maanyan: Idjame Pembakaran Tulang
Alla Ngaben Di Murutuwu Paju Epat (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Barito
Timur 2008).
E L. Danninger
F.Trefferes
Een Eigenaardige Adat Bij Manjan Dajaks
In De Oost Doesson Landen ( Kolonial Tijdschrift 17 jaargang 1928 ).
Judit
Hudson
Waiting for the Durian to Drop:
The Fruits of Patience During a Year in Village Borneo: Nine Days And Nine
Nights (Pelham, Massachusetts 2001)
H.Sundermann
Religiöse Anschaungen Und Gebrăuche Der
Haidnischen Dajakken Auf Borneo (Berlin: Missionszetschrift 1908)
Gus tf Sakai
Tiga
cinta, ibu (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002).