Rabu, 21 Agustus 2013

GEREJA PALANUNGKAI TAMIANG LAYANG ( Landmark Pekabaran Injil Bagi Ulun Ma'anyan)


 SEJARAH BERDIRINYA
GEREJA PALANUNGKAI TAMIANG LAYANG
By:
Hadi Saputra Miter




Gereja Yang Menjadi Landmark
Sebuah gereja besar yang berdiri mengangkang ditengah kota Tamiang Layang, seolah menjadi Landmark bagi kota Tamiang Layang, bagaimana kemunculannya? Banyak orang mengatakan bahwa itu peninggalan Belanda dan lain sebagainya. Gereja yang sekarang dikenal dengan nama PALANUNGKAI yang berarti yang pertama dalam bahasa dayak Ma’anyan merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Tamiang Layang. Tulisan ini akan mencoba membawa kita kepada peristiwa bagaimana Gereja ini hadir yang tentu saja bukan seperti sulap. Melainkan memiliki sejarah panjang yang harus kita hormati.
Berjalannya penginjilan yang dikerjakan di daerah ulun Maanyan melewati rentang waktu yang cukup lama dari 1851 sampai dengan 1930an masih belum ada gedung gereja permanen, kecuali gedung gereja kecil yang ada di Beto. Hal tersebut bertolak belakang dengan diwilayah Kapuas dan Kahayan yang sudah memiliki gereja. Untuk menjawab nya maka Gerlach bersama dengan jemaat di Tamiang Layang berinisiatif untuk mengupayakan sebuah gedung gereja yang bisa menampung jemaat Kristen yang ada di Tamiang Layang yang angkanya terus berkembang secara signifikan.
Kesepakatan pembangunan gereja pun disambut antusias warga, termasuk agar mengalihkan asset-aset milik Zending Basel yang ada di Beto yang dikarenakan selain akses jalan yang sulit serta karena masyarakat yang berangsur-angsur meninggalkan Beto, sehingga diambil langkah agar pusat penginjilan dipusatkan sepenuhnya saja di Tamiang Layang.

Modal Bersama
Keputusan membangun gereja tidaklah mungkin tanpa dana maka jemaat Tamiang Layang mengumpulkan dana, dari dana pribadi masing-masing jemaat mereka mengumpulkan tiap-tiap cent uang mereka sampai akhirnya terkumpul uang sebesar 1000 Gulden. G.Gerlach dipercayakan jemaat sebagai kepala konstruksi. Kemudian mereka bersama-sama membuka lahan yang awalnya ditumbuhi oleh pohon-pohon besar. Yang paling pertama mereka dapatkan adalah sirap untuk atap berjumlah 28000 lembar.
Total biaya yang harus diperlukan untuk pembangunan itu sebesar 2400 fl. Sedangkan jemaat hanya mampu mengumpulkan 1400 fl saja. Namun berkat tidak habis-habisnya bantuan donasi datang baik dari jemaat maupun dari  luar jemaat bahkan ada bantuan secara pribadi. Pemerintah Hindia Belanda melalui Countrolir nya memberikan sumbangan berupa 10 Tong/drum semen ( yang nampaknya digunakan untuk pondasi Gereja) bahkan perkumpulan perempuan menyulam yang ada di Tamiang Layang memberikan sumbangan 190 fl. Dari hasil penjual sulaman mereka. Dan tersisa hutang sekitar 500 fl namun pemerintah Belanda berjanji untuk menghapus hutang mereka.

lahan gereja yang masih belum dibangun hanya ada lonceng gereja yang 
dibawa dari Beto


proses pengangkutan material dan bahan bangunan 
dari sungai siarau menuju lokasi Gereja



proses pembangunan dimulai

Pembangunan gereja berlangsung dari mei 1933 yang sebetulan saat itu missionaries Hacker dari Banjarmasin sedang berkunjung dan melihat bagaimana antusias warga membantu pembangunan gereja
”Saya melihat mereka sangat-sangat kesulitan dalam mengangkut bahan material bangunan dari perahu menuju lokasi pembangunan gereja yang berada diatas bukit. Terutama kayu yang nampaknya sangat berat, semua orang  kampung ambil bagian  membantu mengangkut serta mendorong gerobak menuju puncak bukit, Dan nampaknya gerobak tersebut sering mengalami kerusakan dimana mereka selalu memperbaikinya”.
Gedung gereja Tamiang Layang akhirnya selesai pada tanggal 29 oktober 1933 dan dirayakan, dalam perayaan tersebut bukan hanya dihadiri oleh jemaat Kristen tetapi juga dari Kaharingan dan Islam. Acara tersebut juga dihadiri pejabat pemerintah Belanda yaitu oleh Asisten Resident, Kontrolir dari Kandangan serta pejabat pemerintah dari Tanjung. Pada hari perayaan ibu-ibu dan para gadis mendekorasi gereja sehingga terlihat indah. Acara berjalan dengan penuh keakraban,  saya (G.Gerlach) mengucapkan terima kasih atas dukungan kepada kami dalam menerima  Injil yang kami kabarkan. Dan dengan bangga kami mentahbiskan gedung gereja ini dengan mengambil tema “ Kehormatan Bagi Allah yang telah menyelamatkan umat manusia melalui Tuhan kita Yesus Kristus” dalam bahasa Jermannya: "die Ehre Gottes, des Allmächtigen und den willen und die Erlösung der menschlichen Seele durch Jesus Christus"

SEBUAH RENUNGAN
Luar biasa walaupun dengan kekurangan dan dengan kerja keras maka gedung gereja yang sekarang kita kenal dengan PALANUNGKAI ini lahir. Pernahkan kita  mencoba  untuk merayakan hari jadinya sebagai bentuk apresiasi, agar kita selalu ingat kerja keras para Zending dan kerja keras para jemaat dalam mengupayakan lahirnya gereja kebanggaan kita ini. Saya juga mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan pihak Mission 21 terutama Claudia Wirthlin dari Swiss yang mengirimkan arsip-arsip pendirian Gedung Gereja Tamiang Layang, serata pihak BPH MJ GKE Tamiang Layang dalam mendapatkan foto-foto antik yang  sebagian mengenaskan karna dimakan usia.

Sumber :
Der Evangelishche Heidenbote vol.107 No.06, 1934 (Laporan Missionaris G.Gerlach )
Der Evangelishche Heidenbote  Vol.107, No. 4, 1934 (laporan Missionaris Hacker)
Koleksi Foto MJ GKE Tamiang Layang “ Ngamoean Lewoe Gareja Hang Tameang Laijang teka Mei-Oktober 1933"


Jumat, 19 April 2013

TONGGAK SEJARAH AWAL PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT MA’ANYAN


 TONGGAK SEJARAH PENDIDIKAN
DALAM MASYARAKAT MA’ANYAN
Sekolah milik Zending di Tamiang Layang tahun 1927 
(Dok: milik Zending Basel Swiss)

Ditulis:
Hadi Saputra Miter


Ulun Ma’anyan Sebagai Masyarakat Yang Lugu
    Ulun Ma’anyan dalam memperoleh pendidikan biasanya mendapatkan secara alami, dalam pengertian didapatkan dengan dasar naluri atau insting. Apakah hal tersebut merupakan keperluan untuk bertahan hidup seperti ikut ke ladang, mencari ikan di sungai, menangkap burung dan juga budi pekerti serta norma adat istiadat. Yang didapatkan dari nasehat atau petuah orang tua atau bahkan dari cerita (Tanuhui) yang diselipkan pesan moral.
    Orang Dayak bisa dikatakan lugu, hal tersebut membuat mereka menjadi korban penguasa lokal saat itu, dimana kekuatan feodal yang mendominasi orang-orang dayak termasuk ulun ma’anyan ialah Kesultanan Banjar. Sehingga sejarah mencatat ulun Ma’anyan berada dibawah kendali  kesutanan Banjar, baik secara sosial maupun secara ekonomi.
“para sultan Banjarmasin dalam soal perdagangan menjalankan politik tertutup bagi suku-suku Daya (K) di pedalaman. Mereka tidak diperbolehkan menjual hasil hutan dan lainnya secara langsung kepada pedagang asing. Hasil hutan dan lainnya hanya boleh dijual dan dibeli diperbatasan kesultanan dengan harga murah, lalu diangkut ke Banjarmasin dan dijual kepada orang luar negri dengan harga mahal”.[1]
  Dalam menarik pajak kepada orang dayak pada khususnya Ulun Ma’anyan maka pihak Banjar terkadang mengirimkan orang Bakumpai, dan menurut Antropolog DR Marko Mahin, bahwa pihak Banjar juga kadang mengangkat orang lokal yang dianggap setia untuk mengumpulkan pajak dan upeti yang diserahkan ke Banjarmasin, mereka dianugrahi gelar seperti Raden, Tumenggung, Patinggi dll.
      Sampai pada saat dimana Kesultanan Banjar secara resmi menyerahkan tanah jajahannya kepada pihak Belanda hal tersebut dikenal dengan perjanjian sultan adam, hal itu terjadi pada 4 mei 1826 dimana pejabat senior Belanda M.H. Halewijn melakukan penandatanganan kontrak dengan Sultan Adam. Dimana pihak kesultanan Banjar diwakili Sultan Adam menyerahkan tanah-tanahnya kepada Belanda atas:
"Pulau Tatas dan Sungai Kuin sampai tepi sungai Antasan Kecil;Pulau Burung dan daratan Sungai Maesa sampai Tanah Laut; Sepanjang Sungai Barito Sampai ke Tanah Dusun sejauh Siang; perbatasan Pontianak, Termasuk Sungai Dayak Kecil dan sungai Dayak Besar. Dan pada 18 maret 1845 Sultan Adam bersama dengan Sultan muda dan Ratu Anom Mangkubumi Kencana membagi secara sah antara Tanah Gubernemen (Pemerintah Belanda) dengan Tanah-Tanah Kerajaan."

Sekolah di desa Waman (Bamban) 
dekat Pasar Panas tahun 1920an
(dok:Zending Basel Swiss)

Ulun Ma’anyan mendapatkan pendidikan Formal pertama kali
    Dari Jerman munculah lembaga Penginjilan (Zending) yang disebut dengan Rheinische Mission-gesellschaft (selanjutnya ditulis dengan RMG) yang mengirimkan tenaga penginjilnya pada tahun 1834 kewilayah kolonial Belanda, untuk dapat bertugas di Borneo maka haruslah mendapatkan ijin resmi dari pemerintah Kolonial Belanda. Setelah dapat ijin, maka diutuslah Carl Barnstein pada tanggal 26 juni 1835 datang ke Banjarmasin, kemudian Barnstein memperkenalkan pendidikan resmi, dengan mendirikan sekolah di Banjarmasin. Setelah dianggap berhasil dan memungkinkan untuk menambah pelayanan, maka RMG menambah personil dengan mengirimkan beberapa Missionarisnya ke Kalimantan. Pemerintah Belanda pun nampaknya menghormati agama Islam yang dimiliki oleh Kesultanan Banjar. maka pihak Kolonial hanya mengijinkan pekabaran injil dilakukan di Tanah-tanah Gubernemen (milik Pemerintah Belanda), sedangkan ditanah yang dianggap milik kesultanan Banjar tidak diijinkan.
      Danninger seorang pembersih cerobong asap yang bertobat, yang dilatih untuk menjadi pekerja Missi Zending RMG di Barmen Jerman, dan pada Oktober 1847 perjalanan hidupnya sebagai seorang utusan misi dimulai, dia dikirim ke Kalimantan. Di Kalimantan Daninger dipercaya mengelola sebuah stasi (pusat penginjilan) di kampung Ulun Ma'anyan tepatnya di Murutuwu. Danninger mendirikan sekolah yang dihadiri oleh anak-anak setempat dan juga beberapa perkampungan Ma’anyan sekitarnya, serta ditambah peraturan pemerintah Belanda pada tahun 1846 yang mewajibkan anak-anak pada usia tertentu untuk bersekolah.[2] Mengenai sekolah yang didirikan oleh Danninger, C.Banggert seorang pejabat pemerintah Belanda untuk daerah Bakumpai dan Dusun Hilir yang berkedudukan di Marabahan saat melakukan perjalanan ke Murutuwu sekitar bulan mei sampai juli tahun 1857, Banggert menulis:
           Untuk sekolah nampaknya berbuah baik, pendidikan yang bertahap sukses mengendalikan pemikiran yang tidak masuk akal (takhayul) digenerasi ini kelak, serta menanamkan  moralitas yang baik. Sekolah dikunjungi oleh berbagai usia. Anak-anak dayak nampaknya mampu mengikuti pelajaran dengan mudah. Saya melihat anak-anak itu duduk bersama-sama, memperhatikan dengan seksama tentang pelajaran berhitung dan terkadang membaca sesuatu dengan nyaring. Terkadang saat musim panen tiba sekolah menjadi kosong, pengajaran dilakukan dengan menggunakan bahasa Melayu dan bahasa dayak Ngaju dialek Pulau Petak, sedangkan untuk menulis mereka diajarkan tulisan huruf latin dan huruf Arab (nampaknya karena kesultanan Banjar menggunakan tulisan-tulisan Arab, agar orang-orang dayak bisa memahaminya). Nampaknya pengetahuan geografi anak-anak dayak hanya terbatas pada Palestina saja, hal itu karena saya hanya melihat peta Palestina saja didinding sekolah mereka.[3]
     Pendidikan pertama yang dilaksanakan Daningger merupakan sebuah tonggak perubahan yang besar dimana C.Banggert, saat berada di kampung Dayu pada tahun 1857. Bertemu dengan orang-orang Ma’anyan yang bisa baca tulis, rupannya mereka diajarkan baca tulis oleh para pemuda yang pernah merasakan bersekolah disekolah milik Missionaris Daninger di Murtuwu.
     CARL JOHANN KLAMMER yang juga seorang missionaris RMG, pada tanggal 28 agustus 1857 Klammer mendirikan sekolah di Tamiang Layang. Sekolah yang didirikan Klammer mendapatkan sambutan positif, hal tersebut pastilah setelah masyarakat mendapat kabar tentang sekolah milik Danninger di Murutuwu, yang memberikan banyak hal baik kepada masyarakat. Terlebih ditambah lagi dengan peraturan pemerintah Belanda yang mewajibkan anak-anak daerah jajahan untuk bersekolah.
     Namun sekolah-sekolah yang didirikan oleh RMG ini terpaksa harus ditutup, karena pergolakan politik (dimana pihak Belanda mengangkat Pangeran Tamjidillah sebagai Sultan Banjar, dan Hidayatulah tidak terima. Hidayat mengobarkan kampanye anti kulit putihyang terjadi akibat pemberontakan Pangeran Hidayat. peristiwa tersebut meletus secara bertahap dimulai dari tanggal 1 mei 1859 menyebar menjadi teror berdarah, yang membuat banyak korban orang-orang kulit putih, diantaranya termasuk sebagian Missionaris RMG. 

Pendidikan Dan Sekolah Dibangun Kembali.
    Setelah jaminan keamanan diberikan oleh para kepala suku Dayak, beserta perlindungan secara militer oleh pemerintah Belanda. Maka persekolahan dapat dijalankan kembali, maka sekolah-sekolah rakyat itu pun dibangun kembali. Sekolah lazim  disebut dengan Volkschool dan Vervolgschool, untuk membantu pengajaran di sekolah maka diperlukan tenaga dari orang-orang dayak maka didirikan pula sekolah guru di Kapuas tahun 1872 namun sekolah ini dipindahkan ke Depok. Pada tahun 1878  tokoh Ma’anyan seperti Albert Blantan. Mendapat pendidikan guru di Depok. Kemudian baru tahun 1902 didirikan Seminarie (Particulire Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers) di Banjarmasin yang melahirkan banyak guru-guru Ma’anyan.
 Itulah sekilas sejarah singkat bagaimana banyaknya lahir Ulun Ma’anyan berpendidikan formal, dari rentang tahun 1850an sampai sekarang. Jadi janganlah juga kita lupakan bahwa suka tidak suka, pendidikan formal tersebut justru hadir dan didapatkan dari pihak asing. dimana pihak kolonial banyak memberi juga hal positif bukan hanya hal negatif. Muda-mudahan tulisan ini bisa menjadi informasi bermanfaat bagi generasi Ma'anyan sekarang.


Sumber :
Dokumentasi wali gereja , Sejarah Gereja Katolik  di Indonesia   (Jakarta,KWI: 1974).
Helius Sjamsuddin; Pegustian dan Temenggung: Akar Sosial, Politik, Etnis, Dan Dinasti Perlawanan Di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859-1906 (Jakarta:Balai Pustaka 2001)
C. Bangert, Verslag der reis in de binnenwaarts gelegene streken van Doessoen Ilir, (Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (IX), 1860)
Fridolin Ukur, Tuaiannya Sungguh Banyak (Jakarta:BPK Gunung Mulia 2001)
Fri




[1]        Dokumentasi Wali Gereja , Sejarah Gereja Katolik  di Indonesia (Jakarta,KWI: 1974) 337
[2]      Helius Sjamsuddin; Pegustian dan Temenggung: Akar Sosial, Politik, Etnis, Dan Dinasti Perlawanan Di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859-1906 (Jakarta:Balai Pustaka 2001) 89
[3]         C. Bangert, Verslag der reis in de binnenwaarts gelegene streken van Doessoen Ilir, (Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (IX), 1860)

Kamis, 07 Maret 2013

ERNST LUDWIG DENNINGER & CARL JOHANN KLAMMER ( Zending isa Palanungkai)



ERNST LUDWIG DENNINGER   Dan
CARL JOHANN KLAMMER :
Dua Penginjil Pertama Di Tanah Ulun Ma’anyan
oleh: Hadi saputra miter
prasasti pendirian 
RMG ( Rheinische Missionsgesellschaft )
di Barmen Jerman


       Cukup lama saya absen menulis dikarenakan masih belum dapat mood, setelah saya buka-buka arsip dan korespondensi dengan kawan-kawan di Wuppertal Jerman maka saya bisa mengmpulkan data 2 orang tenaga Zending atau tenaga penginjil paling pertama yang dikirimkan ke wilayah dayak Ma’anyan, yaitu tuan Daningger dan tuan Klammer, walaupun untuk kasus Daningger memiliki data yang cukup lengkap selama berada di Murutuwu, dimana secara ruitin ia  menulis setiap kegiatannya di Murtuwu dan Siong secara berkala dan lengkap. sayang untuk foto nya pihak museum di Wuppertal mengakui tidak menemukannya. dan sebaliknya sangat berbeda dengan tuan Klemmer walaupun pihak museum memiliki fotonya namun dia tidak memiliki catatan pekerjaannya selama di Tamiang Layang.
           Kedatangan kedua penginjil ini tidak lepas dari badan missi RMG yang mengirimkan Barenstein ke Kalimantan pada tahun 1835 setelah melakukan survey maka diutuslah para penginjil lain ke wilayah Ma’anyan sebuah komunitas dayak yang ternyata sangat berbeda dari yang mereka temui diwilayah Kapuas dan pulau petak salah satunya bahasa dan kebiasaan.
                Kedua penginjil ini harus meninggalkan tanah Ma’anyan akibat pergolakan politik dan yang berujung pada sentiment anti kulit putih, yang nampaknya memang menghambat perkembangan penginjilan, terlebih lagi perkembangan penginjilan di Kalimantan bisa dikatakan sangat lambat dan menyedihkan.

ERNST LUDWIG DENNINGER
        Lahir  di Berlin,  04-12-1815 / Meninggal  di Batavia (Sekarang:Jakarta), 27-03-1876
Pekerjaan awal adalah pembersih cerobong asap. Setelah terpanggil dan mengikuti pendidikan Seminari Misi RMGselama kurang lebih 4  thn. 1844-1847, Denninger ditetapkan sebagai misionaris.
Tgl. 11-10-1847 menikah dengan Sophie Jordan wanita kelahiran Kassel Jerman
Foto Denninger sekeluarga sampai hari ini belum ditemukan atau diarsipkan, kendati pernah dicetak/diperbanyak.
Oktober 1847 perjalanan sebagai utusan misi dimulai, dikirim ke Kalimantan
1848-1851 tiba di Banjarmasin dan bertugas di stasion Bintang (Kapuas)
Bertugas di Stasiun Sihong (Siung dekat Telang) dan Maratowo (Murutuwu) pada tahun 1851-1859 selama berada di Murtuwo lah Daningger membuka sekolah dan banyak memberikan pendidikan baca tulis kepada anak-anak dayak  Ma’anyan. Dimana beliau akhirnya meninggalkan Murotuwo melewati Telang untuk mengungsi ke Banjarmasin akibat meletusnya “perang Hidayat”.

    Danninger biasa dikatakan sebagai peletak pendidikan modern pertama untuk orang Ma’anyan dimana sekolah kecil yang dibangunnya di Murutuwu berhasil membuat sebagian orang-orang Maanyan menguasai baca tulis, menurut C.Banggert seorang administrator pemerintah Belanda saat ekspedisi disungai Barito tahun 1857.
Badan penginjilan RMG memutasi Danninger ke pulau Nias.

 CARL JOHANN KLAMMER

Missionaris C. J. Klammer

         Lahir  19 November 1826 di Wesel Jerman, meninggal tahun 13 Maret 1897 bekerja sebagai tukang kayu, bergambung dengan RMG karena terpanggil untuk mengabarkan Injil Kristus  kemudian dikirim ke Kalimantan 1855.
      Menikah dengan seorang wanita bernama Henriette nee Brandt, pada tanggal 25.11.1826 di Wesel Jerman. Menginjili di Tamiang Layang selama tahun 1957-1959, walaupun masa pelayanan Klammer singkat, namun banyak hal yang menarik dimana dia juga melayani Kampung Patai dan dia mendapat sambutan positif di Tamiang layang. Saya meyakini karena singkatnya pelayanan maka jemaat yang dibina pun belum sempat berkembang.

Kartu pegawai RMG milik Klammer

Kartu riwayat hidup milik Klammer
dapat dilihat tahun 1857 penginjilan pertamanya
di Tamiang Laijang (Tamiang Layang)

     Saat meletusnya “perang Hidayat” dimana muncul sentiment anti kulit putih, dalam perjalanan pengungsiannya menuju Banjarmasin menyusuri sungai Sirau Klammer hampir dibunuh oleh orang melayu/Banjar saat disungai Sirau namun diselamatkan dengan aksi heroik oleh Soeta Ono sehingga Klammer dititipkan disebuah kapal perang tentara Belanda (Stoopship) bernama  “Celebes” dan dikirimkan menuju Banjarmasin agar diungsikan dimarkas tentara Belanda disana, kejadian tersebut dicatat pada tanggal 19 mei 1859. Klammer di instruksikan pindah ke tanah Batak yaitu Sipirok Sumatra Utara

semoga bermanfaat bagi kita.

Sumber :
wolfgang Apelt ; Archives and Museum Foundation of UEM is to collect, preserve and document the archive and museum material of the United Evangelical Mission (UEM), esp. of the Rhenish Mission Society and the Bethel Mission. Wuppertal German.
Le Rutte, Episode Uit Den Banjarmasingchen Oorlog:Expeditie De versteking Van Pangeran Antesarie (Laiden: 1863)
Fridolin Ukur, Tuaianya Sungguh Banyak (Jakarta:BPK Gunung Mulia 2001)
Von F Kriele, Das Evangelium Bei Den Dajak Auf Borneo, (Barmen: Verlag des Missionshauses in Barmen, 1915)
Hermann Witschi, Cristus Siegt Gheschite der Dajak-mission auf Borneo, ( Basel mission house 1942).
Berichte der Rheinishen Mission Gesellsaft: missionar Danninger (Barmen: Verlag des Missionshauses in Barmen, 1853)
C.Banggert, Verslag  Der Reis In De Binnenwaarts Gelegene Straken Van Doessoen Ilir (Laiden: KITLIV 1857)
The archives number is: 4011-152 and the copyright belongs to the Archives and Museum Foundation of the UEM.


Jumat, 18 Januari 2013

SAAT SENI TERGANJAL POLITIK


SAAT SENI TERGANJAL POLITIK :
Saat Ulun Maanyan Terperangkap Pergolakan Politik 1965 
            

By: Hadi Saputra Miter

Menari karena identitas
Saya dibesarkan dikampung Haringen, sebagai seorang Maanyan asli saya dibesarkan dengan budaya Maanyan yang saya cintai. Setelah menyelesaikan pendidikan saya di Tamiang layang, saya masuk militer di Palangkaraya, saya kemudian di tugaskan di Kapuas dan menikahi seorang perawat cantik yang berasal dari Buntoi Penda Alai, kami menetap dirumah dinas tentara di kuala Kapuas. Sebagai seorang pemuda maanyan yang mencintai budayanya, saya sangat  pandai dalam menari Bawo, sehingga  banyak orang memuji kepandaian saya. Sampai pada suatu ketika saya bertemu dengan seorang seniman dari LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang diasuh oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) saya sering diajak oleh seniman-seniman LEKRA menari kemana-mana dan saya diijinkan oleh kesatuan.

LEKRA (Lembaga Kebudajaan Rakjat) tahun1950an di Jakarta

Mimpi buruk itu datang
Sampai pada saat peristiwa GESTOK (Gerakan Satu Oktober) meletus di tahun 1965, semua elemen PKI dibersihkan, ditangkap ditahan bahkan ada yang kabar tersiar banyak anggota simpatisan PKI yang dibantai oleh militer di Palangkaraya. Nama saya tercantum sebagai anggota PKI karena ada nama saya dalam catatan anggota penari LEKRA yang notabene sebagai bagian dari PKI. Semua menjadi kacau istri saya dipecat sebagai perawat, sedangkan saya langsung diberhentikan dari kesatuan sebagai seorang tentara.
Saya sempat ditahan, namun karena saya memang banyak kenal tentara disitu maka saya tidak diapa-apakan sehingga sekitar beberapa bulan kemudian saya dibebaskan, kami diusir barang-barang kami dibuang diteriaki komunis anjing dan sebagainya. Semua kawan seolah menjauhi saya dan istri, walaupun saya dilepaskan namun tetap wajib lapor dan KTP saya ditandai sebagai Eks Tapol yang dianggap terlibat G/30 S (gerakan 30 September) hilanglah semua hak hidup saya sebagai seorang Warga Negara. Istri saya mengajak untuk pulang kekampung nya yaitu Buntoi, stigma sebagai PKI membuat saya dan istri terkucilkan baik digereja, ditempat keramaian sampai ngobrol-ngobrol dengan orang pun sering dicibir. Saya sering berpikir sungguh tragis nasibku hanya karena menari atas rasa bangga sabagai Ulun Maanyan, akhirnya membuat hidup saya menjadi ketar-ketir.  Tapi satu hal bahwa saya sampai kapanpun tetap cinta dan bangga sebagi seorang putra Maanyan.


penangkapan orang-orang yang dianggap anggota 
PKI (Partai Komunis Indonesia) tahun 1965an

 Ulun Ma'anyan di Antara Pergulatan Idiologi dan Seni
Peneliti Amerika A.B Hudson membenarkan bahwa sekitar tahun 1962-1964 ditengah-tengah orang-orang Maanyan terdapatnya tiga lembaga kesenian yang berafiliasi dengan partai-partai politik seperti LEKRA yang dibawah PKI, sedangkan LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) dibawah PNI (Partai Nasional Indonesia) dan BAKEDA (Badan Kesenian Dayak) namun yang paling aktif dalam membina kesenian adalah LEKRA.
Alm Pdt.DR Fridolin Ukur juga pernah menulis bahwa pengaruh partai PKI sangat kuat di Kalimantan, jadi pada tahun 1959 tidak aneh kalau kantung-kantung anggota PKI banyak tersebar di Barito Timur, Kahayan dan Kapuas. Secara pribadi saya menilai bahwa banyak Ulun Maanyan yang terlibat Komunis bukan karena politik tetapi karena ketidak pahaman mereka, bahkan meletusnya GESTOK sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. Mereka hanya korban dari perang dingin antara dua kubu besar Komunis dan Kapitalis pada masa silam.

Sumber:

Gerry van Klinken, Colonizing Borneo: State-building and Ethnicity in Central Kalimantan.(Cornell University 2004).
Fridolin Ukur, Tuayannya Sungguh Banyak (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2002).

Korespondensi Saudari Ajarani Mangkujati Djandam dengan Alferd Bacon Hudson, di Massecusett Amerika Serikat Vie E-mail, tahun 2003
Wawancara penulis dengan Bapak Lidi Bandjeng di Buntoi Kab. Pulang Pisau, tahun 2006.
Arsip  Pidato Kawan Messer Tanggap Peleng (Sekretaris CDB PKI Kalimantan Tengah) tahun 1957.


Minggu, 02 Desember 2012

TANUHUI


TANUHUI
:
FANTASI ULUN MAANYAN SAAT 
MEMASUKI DUNIA MIMPI, PADA TEMPO DULU
  By.Hadi S.Miter




Menyampaikan Tanuhui dalam masyarakat Maanyan

Tanuhui atau dongeng dalam bahasa Indonesia, Tanuhiu biasanya diceritakan sebelum tidur (Bed time story) Tanuhui bukan hanya sekedar sebagai hiburan pengantar tidur,  melainkan juga memiliki nilai-nilai pengajaran, petualangan, bertahan hidup dll. Hilangnya Tanuhui dalam tradisi ulun Ma'anyan juga diakibatkan karena kemajuan jaman yang mau tidak mau haruslah dihadapi oleh budaya ulun Ma'anyan. 
Berikut sebuah Tanuhui yang direkam dalam tulisan oleh seorang Missionaris asal Jerman RMG yang bernama Herman Sundermann,  Herman Sundermann menulisnya dengan menggunakan bahasa Ma'anyan dan bahasa Jerman, ia aktif menulis sekitar tahun 1900an. Tulisan berikut sesuai masanya yaitu menggunakan ejaan yang dikenal dengan Ejaan Van Ophuijsen (sebuah ejaan lama yaitu ejaan Belanda dan Melayu, yang lazim digunakan para penulis pada era Hindia-Belanda), dan ejaan tersebut sengaja tidak saya ubah supaya terkesan antik dan klassik. hanya saya beri bantuan menggunakan bahasa Ma'anyan modern di dalam kurung pada kata-kata yang dianggap sulit. berikut sebuah tanuhui yang berjudul hi Lempan baya amahne tulak isanturui (Si Lempan dan Ayahnya pergi Isanturui = pergi kehutan untuk waktu lama, baik berburu maupun menjaga ladang.) selamat membaca Tanuhui:




 perpustakaan KITLV (Koninklijk Instituut voor taal-, land- en volkenkunde)
di Laiden Belanda tempat literatur tentang Maanyan tersimpan


Hi Lempan Here Rueh Amahni Isantoroi . 
(Bahasa Dayak Maanyan)

         Sakarang hi Lempan anri amahui djudju (kajuju) tato'o, Balalu here rueh tolak santoroi (santurui). Inon ma wasi here? Ekat naan mais panan ete panan widit. Lalawoan (laluahne) here tolak, wasi here loloi hang kalat. Djari, dami hampi hang djumpuun jaro, wahai ioh here, kapanan wawoi, kawawe, buhis, talompiau. Amah Lempang njambirang, kamulek hi Lempang ngampiri ponok. Salenga rengaini alah hawi. Eau alah jero: 
        "Paring isa ime jcro unengan Lempan, isa amau uengan  amahni". Salenga hi Lempan karengiti lengan jero, balalu hanje lempat (nempat) here rari, sadina, mamai ma lawi kakau kaju. Balalu alah jero ngota panan pundang, salai here rueh amahni galis. Dami wising, hanje tolak. Maka kariwe anrau amahni hawi, ninong pauan pundang, salai here haut galis. 
Eauni               : "Inon ngota eha taruĂĽh jena, anak?"
Eau hi Lepan  : "Kota alah Bah"
Eau amahni     : "anrei kaajat uni aku nipetni (Niepet)." 
        Djari, kaajat anrauni, amah lempau jero mungun. Angaan baugat lawah balalu alah jero hawi kamulek. Hantam, amah Lempan nipet. Ang maka here ruiih (rueh) tau kapatai alah jero. Galis kamulek kawan puudaug (Punang), salai kota alah. Alah jero mudi. Bah (bah..bah..) eau amah Lempan, "angaan taraa  unengan hang jali (jari), warii taruĂĽh (tarueh) mudi."
        Djari, hi Lerapan pana amah mudi. Siurah hampii (hampe) lewu, here kadinong paisan ete haamau kalat ngaragidjit (ngaragijik) hinra kawau welai. "Oh," eau amah Lempan, "jero isa djari alah, daja loloi jari (yari)" Kalajero asalui (asalne), maka olon takut, woah kapasunan.

Lempan und sein Vater such en W a l d p r o d u k t e . 
(Versi Bahasa Jerman)

    Lempan und seiu Vater hatten uichts mehr zu essen, da machten sie sich auf, um Waldprodukte zu suchen. Was sollteu sie aber zu essen mitnehmen auf den Weg? Sie wickelten etwas Abfall vom Reisstarapfen ein. Als sie aber weggingen, vergassen sie es, es bliebin einem Körbchen'liegen. lm Walde fanden sie vielerlei. Sie erlegten Wildschweine, Hirsche und Affen. 
    Das Fleiseh trockneten sie in der Soune und ĂĽber dem Feuer. Der Vater giug jagen, Lempan aber bewachte die HĂĽtte, die sie sich gemacht hatten. Plötzlich hörte er einen Geist kommen. "In dieseu kurzen bambus wird das Blut des Lempan getau , in den langen das seines Vaters "hörte er den Geist sagen. Als Lempan das hörte, fĂĽrchtete er sich sehr, floh und versteckte sich, iudem er auf den Gipfel eines Bauines kletterte. 
     Der Geistging in die HĂĽtte und fiss alles getrockuete Eleisch auf. darauf entferute er sich wieder. Am Abaud kam der Vater des Lempan zurĂĽck von der Jagd uud brachte neueu Vorrat. //Wer hat unser Fleiseh aufgegessen fragte er. "Das hat ein Geist getaii", antwortete Lempau. //Warte uur", erwiederte sein Vater" morgen werde ich ihn schiessen mit vergifteten
Pfeileii". Am andern Tage lauerte er dem Geist auf. Es dauerte auch nicht lange, da kaĂŻn er wieder. Sofort schoss er ihm mit seinem Blasrohr alle seine Pfeile in den Leib. Aber, kein Gedanke dran, dass er ihn toten konute. Nachdem der Geist alles Fleiseh wieder verzehrt hatte, machte er sich fort.
"Hier ist es nicht auszuhalteii", sagte der Vater des Lempan,
lass uns nur uach Hause geheti". 
     Darauf gingen die beiden heim. Als sie zu Hause ankamen saheu sie, dass ihr Essen, welches sie hatten mitnehmen wollen, und welches noch immer eingewickelt in dem Körbchen lag, voll Pfeile steckte, (uiimlich die Pfeile, welche sie iin Walde auf den Geist geschossen hatten.) O, sagte der Vater des Lempau, "also dies ist der Geist gewesen, der uns verfolgte, weil wir es vergessen hatten mitzuuehmeii". 

Man hat die Meinung, dass, wonn man mit Nahrungsmitteln ungehörig umgeht, darauf Strafe folgt. Dies nennt man "kapasunan", und fĂĽrchtet sich davor.

Sumber :

Herman Sunderman, Der Dialect " Olon Maanjan" In SĂĽd Ost Borneo. RZ 1899
-------------------------- Fabel Olon Maanjan Dajak, RZ 1921
kepustakaan Klasik KITLV (Koninklijk Instituut Voor Taal Land Volkenkunde) Jl.Prapanca Raya, Jakarta Timur, Indonesia.
Wuppertal Archip Matterial, Jerman



Rabu, 03 Oktober 2012

CRISTIAN "MANDOLIN" SIMBAR ( Pahlawan Dayak yang tersisih )


CRISTIAN "MANDOLIN"SIMBAR
By
Hadi Saputra Miter



Kalimantan Tengah lahir dari pergulatan politik dan senjata
Pembentukan provinsi Dayak (Kalimantan Tengah) sebagian besar dilakukan melalui negosiasi dilakukan secara umum yang dilakukan oleh para intelektual namun juga menggunakan tekhnik bersenjata sebagai pentuk penekanan. Teknik-teknik negosiasi terpenting yang termasuk lobi langsung upaya yang ditujukan untuk Jakarta, yang didukung oleh kekuatan tersembunyi di hutan Kalimantan.  Milisi Dayak  dimaksudkan untuk menekan pihak Jakarta  ke dalam permintaan untuk sebuah provinsi Dayak dan juga untuk menunjukkan loyalitas ke Jakarta dengan membantu melawan melawan pemberontak Muslim (misalkan pemberontak Ibnu Hajar dengan Darul islamnya) gerakan ini digambarkan sebagai milisi untuk politisi di Jakarta sebagai sebuah ekspresi budaya Dayak yang unik, liar tapi setia.
Penggunaan istilah tentara lawung nampaknya juga bias dikatakan sungguh kreatif karena merujuk dalam sejarah masyarakat Ma’anyan, dimana Tentara Lawung adalah suatu Dutchsponsored (pendukung tentara belanda) "Kristen-Dayak" kelompok pada awalnya dibentuk untuk melawan penetrasi gerilyawan Sultan Banjar ke tanah Dusun dan Hulu Sungei  (merujuk pada pasukan Suta Ono). Namun kelompok ini bertransisi menuju sebuah cita-cita kemerdekaan yang otonom bagi masyarakat Dayak kelompok ini muncul aktif di Tamiang Layang dan sekitarnya pada tahun 1953.

Cristian Simbar tokoh GMTPS

Munculnya Cristian Simbar aka Mandolin
Cristian Simbar pria kelahiran desa Madara ini adalah pemimpin yang paling menonjol dari Tentara Lawung. Dia mantan sekretaris kepala distrik (wedana atau camat) di Buntok. Kota kecil di tepi sungai Dayak tanah Dusun terletak sekitar lima puluh kilometer barat laut Tamiang Layang.  Dukungan antusias dari penduduk setempat kepada Tentara Lawung lebih disebabkan kepada prakteknya, bukan gagasan atau idiologi gerakan tersebut, dimana dalam prakteknya yang bergaya seperti Robin Hood. Mereka merampok kapal dagang yang lewat dan membagikan hasilnya kepada masyarakat yang membutuhkan, dan juga untuk mereka. Tentara Lawong  merampok kapal dagang di Karau, Negara, dan terakhir di Kalahien, dekat Buntok
Mereka bertindak dengan menyamar seperti otoritas berwajib, mengenakan seragam Aparat pemerintah. Mereka selama melakukan penggerebekan yang biasanya selalu di ikuti pembagian harta rampasan. Tapi kejadian di Kalahien pada akhir tahun 1953 naas bagi mereka terlalu banyak polisi mengepung mereka, yang kemudian berakhir dengan ditangkapnya sejumlah anak buah Simbar saat merampok Kapal dagang Cina, Gin Wan II. Empat orang yang ditangkap dan ditahan adalah kerabat simbar, dan dia memutuskan untuk menyerang kembali. Awal pagi Minggu, 22, November 1953, Simbar dan ratusan pengikut Dayaknya menyerbu kota Buntok. Mereka membebaskan rekan mereka yang dipenjara, tapi dalam proses pembebasan itu mereka membunuh enam polisi, serta enam anggota keluarga polisi tersebut, termasuk tiga anak.  Kemudian kelempok ini melarikan diri dengan senjata yang di rampas dari gudang senjata polisi.
Munculnya kekuatan bersenjata yang memonopoli kekerasan kemudian banting stir untuk kepentingan politik di daerahnya. Dari pada menjadi penjahat, Simbar dan kelompoknya yang semula  terkooptasi berubah menjadi komoditas politik yang bermanfaat. Pada awalnya, milisi ini menarik perhatian kelompok-kelompok lokal yang dianggap mereka sebagai gerakan agama bukan sebagai kekuatan etnis. Dimana dayak Kristen di Banjarmasin, menilai tentara lawung sebagai sekutu potensial untuk melawan Darul Islam, yang menimbulkan ancaman bagi agama mereka. Laporan tentang serangan oleh Kahar Muzakkar dan gerakan Darul Islam terhadap umat Kristen Toraja di Sulawesi Selatan telah menyebarkan ketakutan di seluruh jemaat gereja di seluruh Indonesia. Dan di Banjarmasin, ada cabang dari Darul Islam yaitu KRJT(Kelompok Rakjat Jang Tertindas) lazim disebut Gerombolan, yang telah membuat teror dan menimbulkan korban beberapa orang Kristen dan Pendeta di Labuhan dan Pegunungan Meratus. Sehingga pada bulan November 1953, Christoffel Mihing, seorang Dayak pegawai negri sipil di Banjarmasin yang merupakan seorang Kristen taat, mengumumkan bahwa ia dan jemaatnya siap mengangkat senjata dan bertarung secara frontal untuk mendukung pemerintah Indonesia dan untuk melindungi diri terhadap konversi paksa ke Islam, oleh kelopok KRJT pimpinan Ibnu Hadjar.
Christoffel Mihing ingin mendekati "Tentara Lawung" yang dipimpin Simbar untuk merancang sebuah program "perjuangan bersama". Namun milisi Dayak "Tentara Lawung" lebih memilih perjuangan politik tanpa mengikut sertakan embel-embel agama, mereka lebih memilih perjuangan politik etnis yang mendukung terciptanya sebuah provinsi keempat, dimana orang Dayak memimpin secara otonom di Kalimantan. Sebuah isu yang sengaja mereka eksploitasi dan karena itu memang salah satu masalah pembangunan negara yang ada pada saat itu. Segera setelah serangan Buntok, pemimpin Dayak Kristen di Banjarmasin memilih untuk mendekati dan meminta perlindungan dari Gubernur Murdjani.


Dari Tentara lawung menjadi Gerakan Mandau Telawang Pancasila
Para penyerang Buntok ini telah meluncurkan nama gerakan mereka terungkap dalam surat,  yang mereka sebut Telabang Pancasila Sektor Dajak. Telabang (atau telawang) adalah perisai; Pancasila adalah ideologi nasional Indonesia, sebuah istilah yang jelas disampaikan sebagai bentuk loyalitas ke Jakarta. Para penyerang menjelaskan bahwa mereka telah termotivasi oleh keluhan masyarakat dayak, seperti ketidakpuasan mereka dengan korupsi didalam pemerintahan dan pembatalan skema saluran rawa.
Kelompok ini menambahkan (untuk menarik mata sponsor/dukungan yang potensial di Jakarta) bahwa pihaknya siap "mati untuk" Pancasila. Hari berikutnya, kelompok ini dibaptis ulang dirinya terang-terangan memperlihatkan identitas Dayak, dengan nama Gerekan Mandau Telabang Pantjasila (mandau mengacu pada pedang pendek Dayak). Ini mengumumkan bahwa pemimpinnya adalah Ch. Simbar, alias Mandolin, seorang anggota dari suku Dayak Ma'anyan. Yang paling penting, bahwa kelompok ini ingin menjelaskan oposisinya terhadap kelompok anti-Jakarta dan bukan bagian pemberontak terhadap Indonesia, seperti yang dilakukan oleh KRJT(Kelompok Rakjat Jang Tertindas), DI/TII (Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia) pimpinan Ibnu Hadjar.
Simbar menyatakan kelompok nya bukanlah sampah masyarakat. Dia sendiri mantan seorang pejabat pemerintah lokal, dan sekarang berbicara mewakili daerah Dayak. Pada pertemuan dan mendapat simpatik dari kalangan orang-orang Dayak pada Desember 1953 dengan sebuah delegasi berkekuatan tinggi dari tokoh-tokoh Dayak yang dipimpin oleh Bupati Barito, G. Obus. Simbar mengajukan pembelaan yang sangat ideologis atas tindakannya, dia mengatakan karena didorong oleh rasa ketidakadilan yang diderita oleh orang Dayak selama ini, serta menentang korupsi dan juga teror para kelompok pemberontak Islam pimpinan Ibnu Hadjar. Ia dan anak buahnya akan sukarela menyerahkan diri asalkan mereka direkrut menjadi polisi atau tentara, pada pertemuan ini yang hadir adalah C. Luran, ketua DPRD Barito (DPRDS, atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara), dan juga B.Baboe keponakan dari mantan eksekutif Pakat Dayak.
Sebuah kesepakatan telah dibuat untuk Simbar, hari berikutnya Simbar menyerah bersama dengan 129 pengikutnya. Semua dibawa ke Banjarmasin dimana dalam pertemuan tingkat tinggi diikuti ada antara pemimpin Dayak dan wakil gubernur, wakil kepolisian, dan kejaksaan (dimediasi oleh Bupati Barnstein Babu, keponakan dari Hausmann Baboe) dimana mereka mengaku mengambil bagian dalam serangan Buntok, untuk dibebaskan dari segala tuduhan. Polisi segan untuk mengambil sikap  dengan kelompok ini, inilah yang membuat kelompok ini menjadi angkuh terhadap hukum, namun Simbar tetap ditahan dengan tuduhan perampokan terhadap kapal Gin Wan II. Namun pada pertengahan April 1954, Simbar melenggang keluar dari penahanan dan pulang kekampung halamannya
Koran “Indonesia Berdjuang” berkomentar  mencium bau tikus (persekongkolan), tapi berani tidak berani menyebutkan nama. Mereka  meyakini Simbar tidak bisa  bebas dengan sendirinya dari berbagai kasus yang seharusnya dapat menjerat nya dan kelompoknya, Para penulis mencurigai bahwa ini semua bagian dari taktik untuk melawan partai-partai Islam. Lepasnya  Simbar dari berbagai tuntutan hukum itu nampaknya telah dilakukan oleh suatu "elemen rahasia" di Banjarmasin, mereka juga mencurigai nahwa ada unsur yang sama pula telah memberinya senjata yang akan dimanfaatkan dalam pemilu.
Memang benar bahwa prospek pemilihan umum sudah menaikkan politik ketegangan di seluruh negeri pada tahun 1954, setahun kemudian akhirnya diadakan. Namun gerakan Simbar nampaknya tidak ada kaitan dengan politik pemilu. Simbar adalah pion dalam politik elit yang peduli dengan isu desentralisasi. Pada saat ini, kabinet nasional nampaknya sedang mempertimbangkan pembagian Kalimantan menjadi empat provinsi. Komite aksi Dayak yang bermunculan berdebat untuk provinsi "keempat" dimana akan meliputi Dayak Besar. Yang terbaik dari mereka akan dipilih bergabung dalam Komite untuk Saluran Aspirasi Rakyat untuk Kalimantan Tengah (Panitia Penjalur Hasrat Rakyat Kalimantan Tengah), yang dipimpin oleh Oberlin Brahim dan M. Ismail. Saudara dari Oberlin, yaitu Timmerman Brahim, segera membentuk Partai Persatuan Daya, sedangkan Ismail adalah saudara dari pemimpin Parkindo dan hakim Banjarmasin, yaitu AD Ismail.
Pada bulan Juni 1954, Simbar kembali menjadi headline surat kabar lokal, dimana dia selalu diidentikan sebagai pemimpin organisasi bersenjata bernama Mandau, Telawang Dan Pancasila (juga kadang disebut sebagai "Mandau Telabang Kalimantan Dajak"). Dia berbasis di DAS Sungai Barito sekitar Buntok dan Muara Teweh. Dua bulan kemudian, ia dilaporkan telah berjalan 150 kilometer barat ke daerah DAS Sungai Kahayan, dimana ia dianggap memiliki "pengetahuan mistik" (ilmu). Kelompok Kaharingan dan Dayak Kristen mendesak Simbar dan kelompoknya agar bergabung dengan angkatan bersenjata yang resmi. 
Simbar mengatakan kepada pers bahwa pembentukan provinsi Kalimantan Tengah dengan cara yang "demokratis" adalah masalahnya, dan ia mengkritik upaya lemah yang telah dibuat para elit pendukung gerakannya, Simbar menuding penyebabnya utamanya adalah anggota parlemen Dayak yaitu Halmoat Koenoem, yang berada dikursi empuk Jakarta ( Anggota Dewan, yang juga orang Dayak).

Simbar gagal dalam pergulatan di pesta demokrasi
Kejeniusan Simbar terletak pada kemampuannya untuk bergerak maju mundur di antara kota dan hutan, ia memainkan peran sebagai calon pemimpin Dayak dalam pemilu sekaligus sebagai pemimpin gerilyawan bersenjata. Pada bulan Mei 1955, Simbar muncul dari hutan, ia mengambil tempatnya sebagai salah satu dari tiga kandidat teratas untuk Partai Persatuan Daya. Nampaknya orang Dayak di daerah pemilihan Kalimantan Selatan, tidak bersatu di bawah spanduk etnis dalam pemilu 1955 . dimana nampak kurangnya minat dalam keberpihakan kedalam politik regional. Douglas Miles menggambarkan tingkat dukungan terhadap politisi di pedesaan bahkan dan daerah hulu selama menjelang pemilu sangat rendah. Hal itu terlihat dimana nama dari para Calon utama dai Partai Persatuan Daya itu adalah Timmerman Brahim, Perdinand Dahdan Leiden, dan Cristian Simbar, semua berbasis di Banjarmasin.
Hasil pemilihan untuk provinsi Kalimantan Selatan parlemen sementara (DPRD Peralihan), yang diadakan tahun itu, menegaskan betapa tidak efektif etnis Dayak dalam politik elektoral. Di Kalimantan Selatan secara keseluruhan, 82 persen masuk ke dua partai Islam, Nahdatul Ulama (NU, 49 persen) dan Masyumi (33 persen). PNI (Partai Nasional Indonesia) mendapatkan 6 persen suara. Nampaknya minat dalam isu menciptaan sebuah provinsi keempat kurang gereget di politik elektoral. Apa yang dianggap sebagai kabupaten yang mayoritas didominasi Dayak Barito, Kapuas, dan Kotawaringin, partai-partai yang lebih kecil dikondisikan untuk mendukung provinsi Kalimantan Tengah, namun lesu darah dan tidak cukup untuk mematahkan dominasi dari Partai NU, Masyumi dan PNI.
Partai-partai besar memenangkan total 70 persen, masing-masing 52 persen, dan 60 persen di tiga kabupaten yang notabene kantung-kantung Dayak. Pihak-pihak yang telah secara aktif mendukung pembentukan provinsi Kalimantan Tengah yaitu Partai Persatuan Daya (Partai Persatuan Dayak), PRN, dan Parkindo masing-masing hanya mendapat porsi kecil suara. Meskipun Partai Persatuan Daya, dimana pihak Simbar sendiri bisa dikatakan tidak buruk sebagai partai debutan atau pendatang baru dikancah politik (Simbar yang meraup suara, masing-masing, 3 persen, 14 persen, dan 3 persen dari total suara di masing-masing tiga kabupaten). Namun hal ini nampanya tidak mampu membujuk Simbar untuk tinggal berlama-lama dengan partai politik dan dia memilih kembali taktik lamanya, yaitu perjuangan bersenjata.

Kekecewaan Simbar sebagai patriot yang hanya menjadi anak bawang
Perjuangan Simbar dan kelompoknya tidak sia-sia, Provinsi ke-4 "Kalimantan Tengah" akhirnya terwujud. semua berakhir dengan baik, Tjilik Riwut menjadi Gubernur dan Simbar hanya diberikan sedikit uang sebagai ucapan terima kasih dan dia mencoba peruntungan lewat bisnis. Tidak adanya bakat untuk bisnis, akhirnya membuat ia menderita kebangkrutan, dan merasa diacuhkan. Pada tahun 1961, ia kembali ke hutan, dengan masih membayangkan bahwa ia akan berhasil secara politik dengan pengalamannya berjuang (sementara yang lain nyaman menikmati kontribusi Simbar yang tanpa lelah melobi Jakarta). 
Dia telah melewati masa untuk bisa berharap menjadi gubernur setelah masa Tjilik Riwut itu berakhir, dan ini membuatnya marah. Mungkin dia tidak menyadari bahwa ia telah kehilangan pengaruh imunitas, atau kekebalan hukum yang dulu ia nikmati. Simbar membuat dianggap bocah bengal tukang bikin onar dan tidak ada isu yang membuat masyarakat tertarik dengannya. Simbar dikabarkan ditangkap dan ditahan sebagai seorang pesakitan dipenjara militer di Balikpapan, Kalimantan Timur.  Adik Simbar yaitu Damang Bubu Simbar menyesalkan dimana pemerintah melupakan kohort  (akar) mereka sendiri, dan dimana sang pejuang harus tersisih dari daerahnya. Banyak yang menduga ia mati dieksekusi oleh militer di Balikpapan. Namun semua kabar tersebut dimentahkan setelah bertahun-tahun lamanya dan nampaknya dirahasiakan oleh pihak keluarga, dimana pria bernama Cristian Simbar menyembunyikan identitasnya menjadi Suryatim AKA Pak Kasim dikatakan pihak kedokteran memiliki ciri-ciri identik dengan Simbar selama ini, dan hal tersebut akhirnya dibenarkan oleh pihak keluarganya. Bahwa Simbar diketahui meninggal dunia terkena penyakit Ghastritis Chronis berada di Nusa Tenggara Timur pada 29 Desember 1992. Dan sekarang dipulangkan ke kampung halamannya Madara. 

Sumber:


Gerry van Klinken, Colonizing Borneo: State-building and Ethnicity in Central Kalimantan. (Itaca:Cornell University, 2006).
A.B Hudson, Padju Epat: The Etnografi And Social Structur Of Ma'anjan Dajak Group In Southwestern Borneo (Michigan: University Of Microfilm, 1967).
Tjilik Riwut, Kalimantan Membangun (Jakarta, 1979).
M.Laiden, Christian Simbarku Pahlawanku Terlupakan (Palangka Raya, 2008).
KAM Usop, Pakat Dayak (Palangka Raya, 2012).